Berbicara Lewat Kertas (baca : bukan digital gadget)

Ruang Riung Graha, Bukit Indah Plaza Hotel, Purwakarta, Sabtu pekan lalu. Meja panjang diatur menyerupai huruf U. Taman kecil di tengah ruang lengkap dengan air mancur mini menuai suara gemericik air. Sekitar 24 wartawan dari berbagai media duduk dengan manisnya. Saya diapit rekan dari Harian Kompas dan Tabloid PC Plus.

General Manager (GM) Marketing Product Development salah satu operator seluler GSM yang mengundang kami tengah memberikan presentasi. Berbicara panjang lebar mengenai Mobile Banking. “Serasa memiliki ATM dalam genggaman,” begitu slogan pemanis yang kerap di pakai untuk membujuk lebih banyak lagi pelanggan.

Saya mencatat beberapa kutipan penting yang bisa dijadikan bahan tulisan. Berapa jumlah pengguna, transaksi perhari, target pelanggan tahun ini, kendala dan keamanan Mobile Banking serta beberapa hal lain. Sesekali si GM menyelipkan guyonan agar presentasi terkesan cair. Pria berkebangsaan Belanda ini fasih sekali berbicara dalam bahasa Indonesia.

Saya masih mencatat; saat mendapati dua orang rekan yang duduk di depan saya seperti menahan tawa. Apa yang lucu, rasanya perkataan bule ganteng yang cerdas belum layak disebut humor. Aha.. ini dia. Saya temukan jawaban; dua rekan tadi tengah terlibat chatting. Satu kertas menjadi media perantaranya.

Jaman kuliah dulu, saya kerap melakukannya. Di tengah kuliah yang membosankan, pada masa-masa awal penataran P-4 (yup, sayangnya saya masih harus menjalani produk Orde Baru ini) atau saat rapat organisasi.

Saya, sahabat dan kertas. Berbincang mengenai hal-hal kecil yang ada di ruang kuliah, kakak tingkat yang makin lama makin sedap dipandang dan banyak hal lainnya. Dan muncullah ekspresi menahan tawa atau kebingungan kecil yang kadang dijawab dengan berbisik “detailnya entar aja, pas bubar kuliah”.

Saya juga memilih chatting via kertas kala menjalani episode jingga dengan laki-laki menarik di tahun keempat perkuliahan. Pada jam-jam yang disepakati, di perpustakaan fakultas dalam hening ruang baca. Kami berhadapan, bertutur dalam diam. Menuangkan rindu, mengalirkan kasih, berbagi sayang. Padahal saya ingin memandangnya lekat-lekat. Berbulan-bulan aktifitas menyenangkan ini berlangsung. Dan berakhir saat satu kesadaran menghampiri, buah dari perenungan yang cukup menguras pikiran; saya tak mungkin mendua…

Di kantor, saat rapat gabungan antara redaksi, divisi sirkulasi dan iklan, chatting via kertas juga jadi obat mujarab pengusir kebosanan. Lewat notes, saya dan rekan satu desk bertukar cerita.

Ruang Riung Graha, Bukit Indah Plaza Hotel, Purwakarta, Sabtu pekan lalu. Di sana bertebaran aneka perangkat digital. Mulai dari notebook super tipis yang dibawa narasumber, ponsel cerdas dan PDA phone yang dipakai beberapa rekan wartawan. Tapi berbicara bergantian lewat kertas ternyata masih menjadi opsi menarik yang bisa dipilih.

Jadi sesekali kenapa tidak mencoba berbicara lewat kertas? Tidak efisien mungkin (maklum bukan digital gadget), namun rasakan selarik nuansa yang dibawa lewat cara ini. Seperti dua orang yang tengah menanti masakan tersaji di salah satu rumah makan pinggir jalan.

Perempuan menulis : eh Hon, aku udah bilang belum kalo mata kamu bagus? aku udah bilang juga belum kalo aku kangen?
Laki-Laki menulis : udah Luv, kemarin udah, kemarinnya lagi juga udah. makasih ya. i miz u too.

atau

anak menulis : ibu, makasih ya untuk segelas susu hangat tadi malam.
ibu menulis : jangan tidur terlalu larut. kamu butuh istirahat.

Menyenangkan bukan? Betapa perangkat non digital ini memiliki auranya sendiri. Menahan senyum, memandang raut wajah teman bicara atau tergelak bersama.

Jadi sesekali kenapa tidak mencoba berbicara lewat kertas?

Untuk Okke, sahabat senja yang cerdas dan menyenangkan; gimana akhirnya? jadi menulis surat? :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *