seperti apa adanya kita…

Apa rasanya naik BMW 530i selama dua hari?
-enak. nyaman. goncangannya terasa… dikit, gimana nggak… jangan salahin mobilnya, jalanan jakarta aja yang parah- (dikutip dari seorang rekan desk otomotif dalam satu obrolan ringan di sela-sela kerja)

Hanya itu?

Dua hari beraktifitas dengan mobil yang mengundang decak ini juga memberinya satu pelajaran. Perbedaan perlakuan masih bertebaran di sekeliling

-biasanya itu tempat parkir nggak boleh dipake. kemaren sampe dibukain pagernya. udah gitu disebrangin sampe jalan pula-

Obrolan ringan itu membawa saya ke satu pengalaman yang masih lekat dalam ingatan. Akhir tahun lalu, seorang perempuan di garda depan supermarket dekat kantor mengembangkan senyum. Aneh, pikir saya. Biasanya ia selalu menerima tas ransel hitam, sahabat setia liputan, dengan muka ditekuk. Tapi hari itu ia memberikan nomor tanda penitipan dengan muka yang ramah.

Yang saya ingat, waktu itu saya menjawab panggilan masuk lewat O2 XDA II, PDA Phone yang sedang saya trial untuk beberapa hari. Dan O2 menjelma menjadi sebuah penanda dari status ekonomi yang lebih baik. O2 berujung pada sebentuk senyum ramah…

Betapa dalam hidup, apa yang kita kenakan, yang kita sandang, yang melekat pada kita sama artinya dengan strata. Apakah kamu akan kami perlakukan begini atau begitu. Apakah kami perlu tersenyum atau tidak. Lalu apakah senyum kami perlu mengembang atau cukup di ujung bibir. Apakah kami perlu menjawab pertanyaan dengan menoleh, menatap dengan dua mata sarat kebaikan atau sambil lalu. Ah dunia…

Mungkin itu sebabnya saya begitu larut dalam pelukan tempat-tempat tanpa sekat. Saya menikmati malam di pelataran Menara Danamon, makan siomay, berbincang dengan sahabat yang bekerja sebagai editor di stasiun televisi yang berkantor tak jauh dari situ. atau menikmati waktu sambil berlama-lama di Bengkel Deklamasi kawasan Taman Ismail Marzuki, mencari buku, duduk tanpa alas sambil membaca sebelum saya membayarnya. juga merindukan bakmi pinggir jalan di daerah Menteng, pergi kesana dengan beberapa teman redaksi, menghabiskan malam dengan berbagi tentang banyak hal.

Bukan. bukan saya anti kemapanan. kadang saya juga lebih memilih Djakarta Theater atau Plasa Senayan ketimbang Slipi Jaya. atau pergi ke kafe di bilangan Kuningan dengan sahabat. Mendengarkan live music di Bale Air juga membuat hati saya gembira. Memilih kursi beratapkan langit dengan lilin kecil di meja, ikut bersenandung dengan suara yang ngepas.

Tapi di tempat tanpa sekat; saya menemukan wajah-wajah yang memperlakukan saya dengan ramah. Tak peduli hari ini saya datang dengan ojek, taksi atau bis kota. Apakah saya menjinjing O2 XDA II, Nokia 3315 atau ponsel lain. Yang pasti di kedalaman tempat tanpa sekat tidak ada topeng yang bertengger, di wajah saya atau wajah mereka.

Malam ini saat rekan desk otomotif hendak pulang, saya sempat menggodanya; “Nggak naek BMW lagi?”

BMW 530i telah direnggut darinya beberapa hari yang lalu, dikembalikan lagi ke dealer, yang tersisa kini hanya tugas untuk menulis artikel berdasarkan pengalaman empiriknya. Kembali ke selera asal sama artinya dengan berpanas-panas ria, dengan perlakuan yang minimalis.

Ah dunia… terlalu sulit rupanya memperlakukan kita seperti apa adanya kita…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *