Sabtu Itu Di Kaki Gede dan Pangrango…

“Dik, daun hijau lho”
iya kak
“Dik, langit biru lho”
he eh kak
“Dik, daun hijau lho”
Lho.. kan tadi udah kak?

Celetukan segar hasil karya Ollie dan Serny ini berujung pada tawa. Saya menghentikan langkah dan tergelak. Aneka canda bertebaran sepanjang jalur Cibodas-Cibereum mengisi perjalanan trekking di satu sabtu yang cantik.

Dari pasar festival semuanya berawal. Dari sana, rombongan bergerak menuju rumah Aip dan Wiena di Sentul. Rumah cantik dengan pemandangan yang sangat menarik. Kami menghabiskan malam dengan barbeque, bercerita dan… apa lagi kalau bukan tertawa. Sinergi Detta dan Ciphie memberi sentuhan warna yang hidup. Ide keduanya tak pernah habis. Mereka tahu betul bagaimana membuat suasana menjadi lebih ceria. Sayang keduanya tak bisa ikut menelusuri Cibodas-Cibereum. Lepas tengah malam, Detta dan suami tercintanya juga Ciphie kembali lagi ke Jakarta.

Paginya, sebelas orang yang tersisa meneruskan perjalanan menuju Cibodas. Ada saya, Roi, Eyi, Balqi, Desy, Iqbal, Ollie, Serny, Akasa (yang ikut pada menit-menit terakhir menjelang keberangkatan), juga Aip dan Wiena.

Setelah singgah sejenak di warung Mang Idi, rombongan pemilik rumah senja memulai trekking. Diawali dengan doa kami berjalan beriring dengan latar Gunung Gede dan Pangrango yang anggun. Angin Cibodas menyambut kami, sebelas pemilik rumah senja yang sabtu itu sejenak lepas dari rutinitas.

Kami berjalan di atas bebatuan. Sesekali berhenti dan mengatur nafas, mengumpulkan kekuatan atau mengambil gambar. Kamera menjadi sahabat setia yang menemani perjalanan. Rasanya tak ada momen yang terlepas. Saya sendiri tak pernah berada di belakang kamera. Sebagai model yang baik (ehm…), hanya beberapa foto saja yang luput dan tidak mengabadikan saya di dalamnya.

Potongan dialog di awal tulisan ini hanya sekeping dari serentetan canda yang terlontar. Hanya sekeping; karena ada segudang canda yang selalu siap diluncurkan kapan saja. Pemilik rumah senja yang ambil bagian dalam trekking ini ternyata kreatif dan hidup dengan sense of humor yang baik. Tak heran jika perjalanan kerap dibanjiri tawa.

Untungnya rintik hujan yang sempat muncul di awal perjalanan urung melanjutkan aksinya. Cuaca cerah, cahaya matahari sesekali terpancar di sela-sela lebatnya dedaunan.

Sabtu yang cantik; bertambah cantik dengan beragam hal-hal yang dijumpai di tengah perjalanan. Tupai yang ditunjuk Iqbal misalnya. Si tupai membuat keributan kecil dan dahan yang ditumpanginya bergoyang. Atau kupu-kupu dengan sayap coklat yang berlenggak-lenggok di atas batu. Obrolan burung-burung di pucuk pohon. Monyet yang bergelantungan dan berlompatan. Aroma daun basah dan harum hutan. Telaga Biru yang tenang (sekilas mengingatkan pada banner rumah senja Akasa). Sungai kecil dengan gemericik air… komposisi terbaik dari alam.

Puncaknya adalah gemuruh air terjun Cibereum yang menjadi tujuan trekking. Terletak di ketinggian 1.625 m, air terjun ini berada di tebing yang ditumbuhi oleh lumut yang berwarna kemerahan.

Di pinggir air terjun, segala perbekalan dibuka. Balqi cekatan sekali. Dalam sekejap kopi susu hangat siap diminum. Masih ada Nasi goreng Mang Idi, beragam makanan ringan (tepatnya berbungkus-bungkus makanan ringan) sampai Coca Cola dan coklat. Duduk, bercengkerama, kadang kala titik-titik air terjun yang terbang bersama angin menerpa wajah-wajah ceria, sebelas pemilik rumah senja…

Cibodas-Cibereum menuai banyak cerita. Energi kasih yang tertangkap saat Aip menggenggam tangan Wiena erat. Lalu tatapan penuh sayang kala Balqi memandang Desy; Terkagum-kagum melihat Roi dengan asap yang dikeluarkan tubuhnya. Eyi yang bersuara lembut (Eyi manis sekali….); Serny si fotografer yang cekatan, wajah serny seperti tak pernah lepas dari senyum. Kakak Iqbal yang senang berjalan di depan dan tetap sabar menunggu yang lain. Akasa yang mesti tanpa persiapan tetap bersemangat (semangat dengan agak sedikit malu-malu ya Sa…) dan Ollie yang pandai meramu bahan cerita juga tetap tabah mesti kadang disambut dengan komentar dari segala penjuru.

Setelah makan sore di tempat Mang Idi, sebelas pemilik rumah senja berpencar. Kembali ke rutinitas, pekerjaan, pabrik, kubus, rumah. Ditengah guyuran hujan; Cibodas lamat-lamat hilang dari pandangan.

Terima kasih untuk Akasa, Ollie, Wiena dan Aip, Balqi dan Desy, Roi, Eyi, Serny, Iqbal juga Ciphie, Detta dan suami.

One thought on “Sabtu Itu Di Kaki Gede dan Pangrango…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *