Menunggu Juni…

Saat ada sebentuk harap, asa… menanti kadang jadi berubah menjadi sesuatu yang menimbulkan sedikit kekhawatiran. Kadang timbul, kadang tenggelam. Begitu pula saya. Asa…harap yang saya pikulkan pada Juni membersitkan sebentuk ketakutan kecil… apakah semua akan berjalan sesuai dengan rencana, lalu bagaimana jika ternyata tidak.

Juni nanti keputusan tentang kelanjutan saya disini akan terjawab. tetap terus dan menjadi keluarga, berhenti dan mencari tempat berkarya yang baru atau tetap terus dan belum menjadi keluarga secara penuh.

Mestinya semua dilalui saja; bukan begitu? memikirkannya sekarang toh tidak akan membantu. Memikirkannya sekarang justru memberinya kesempatan bermetarmorfosis menjadi beban yang membuat langkah semakin berat.

Tapi ada banyak asa yang berawal setelah Juni (dengan asumsi; benar-benar menjadi bagian dari keluarga tempat saya bernaung selama ini, kastil lima belas lantai dengan kubus-kubus yang unik); setelah Juni akan ada rekening pribadi yang dibuka khusus agar uang bulanan yang masuk ke saldo tak mudah menguap, meneruskan masuk ke kelas kecil di akhir pekan untuk lebih memfasihkan Inggris saya yang masih kacau balau, sedikit menambah ilmu tentang fotografi, ikut kursus dubber di bilangan pasar baru, mencoba membuka diri untuk satu bahasa baru, belajar menulis di satu lembaga jurnalistik, menabung untuk membeli rumah mungil di pinggiran kota, dan masih banyak lagi…

Kadang saat keyakinan saya naik; saya yakin Tuhan melihat segala hal kecil yang saya lakukan dan menggariskan penantian ini dalam format Happy Ending. Tapi saat keyakinan mulai melemah; saya tak yakin pada alas yang saya pijak. Bayangan akan kembali masuk dalam barisan pencari kerja dan memulai segala sesuatunya dari awal adalah benih ketakutan yang hinggap dan menghambat jam tidur saya.

Satu malam, saya akhirnya berbagi. Tentang ketakutan menyambut Juni, tentang impian yang saya bangun, tentang hidup dan asa yang saya pupuk. Saya bertutur, menceritakan dan berharap langkah saya akan menjadi ringan setelah itu. Bertutur pada seorang bijak, sahabat yang menunggu hingga kalimat saya habis tanpa menyelanya, teman yang menyodorkan perspektif lain dari apa yang selama ini saya anut. Laki-laki cerdas yang tampak memikat saat ia tergelak…

Di bawah pijar lampu sorot pelataran Taman Ismail Marzuki, dua orang bercakap-cakap. Saya datang dengan segumpal resah yang selama ini mengendap. Dia datang dengan segenggam kalimat menyejukkan; seperti titik hujan yang menari di jendela kaca lantai enam kala mentari senja beristirahat. (Dia sendiri lebih menikmati hujan ketimbang senja)

Saat percakapan diakhiri, malam semakin tua. Dia menanti di tepi jalan, memastikan saya memasuki taksi yang baik dan benar, tetap berdiri hingga saya duduk di dalam taksi biru. “Hati-hati ya”… Ketika roda taksi menggelinding, saya menoleh, mendapatinya berdiri tegak di bawah pijar lampu sorot. Saya tetap memandangi sosoknya dan melihat… ada sayap di punggungnya.

Sejak malam itu, saya tak lagi takut terhadap Juni.

Untuk Mbonk, terima kasih banyak atas masukan bijak. Salam sayang saya untuk Ing, gadis yang menyimpan rembulan dalam saku hasil curianmu malam itu….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *