Jam Istirahat…

Kalian tahu apa yang saya suka saat saya akan segera duduk di bangku Sekolah Dasar, dan meninggalkan Taman Kanak-Kanak dekat rumah?

Jawabnya adalah Jam Istirahat.

Selamat tinggal kotak bekal. Punya uang jajan sendiri senada dengan kebanggaan tak terkira. Saat bel istirahat menjerit, saya dan teman-teman kecil akan berhamburan keluar. Kami bagai kumbang mengerubungi aneka jajanan di pelataran sekolah dan menuai dengung yang khas. Empek-empek, Bubur Ayam lengkap dengan kerupuk merahnya, Siomay Ikan Tenggiri, Otak-Otak, Es Serut Om Otong, Ikan mas koki dalam plastik, Agar-Agar dengan cetakan bintang dan masih banyak lagi…

Selepas pendidikan dasar, jam istirahat justru menuai degup di jantung. Di tahun kedua sekolah menengah pertama, yang saya ingat, saya pergi jauh-jauh dari kelas dan memberikan dia ruang gerak yang lebih untuk menyelipkan sepucuk surat di laci meja. Dia, murid kelas lain, bertautan dua ruangan dari kelas saya. Seusai jam istirahat, degup jantung saya semakin cepat, melongok isi laci, sepucuk surat dengan sampul yang berganti-ganti setiap edisinya.

Tidak setiap hari, si tukang pos ini menitipkan surat, yang pasti pada malam-malam tertentu kami berbicara panjang sekali di telepon. Ada ritme yang terbentuk, surat, telepon, bersepeda di Senayan, nonton film, pameran buku, bakso Kebon Jeruk. Kami selalu pergi bergerombol. Sepanjang 1 tahun saya bahkan tak berani menggamit tangannya. Dia? setali tiga uang. Episode Jingga yang diawali dari sepotong surat pada Jam Istirahat.

Di sekolah menengah; Jam Istirahat sama artinya dengan kantin dan gerai yang terjejer rapi, lantai keramik bersih, taman dengan mawar yang manis, kuncup, mekar, merah hati, merah muda. Sekolah menengah adalah ketertarikan yang sangat pada gitar. Berusaha menaklukkan alat musik petik ini dengan mencumbunya pada Jam Istirahat di ruang kecil dekat perpustakaan, bersama beberapa rekan yang sudah lebih mahir. Tidak terlalu berhasil meski ujung jari saya sedikit mengeras.

Di perguruan tinggi, Jam Istirahat menyisip pada jeda antara mata kuliah yang satu dengan yang lain. Meski resmi menjalin kasih dengan Abang, kami tak pernah bersama-sama. Di Kampus, saya lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman sepermainan, Abang juga begitu. Jadi… masih ada kesempatan untuk melirik kantin Ekonomi, Sastra (favorit saya) atau Teknik. Jika timbul keisengan yang lebih; kantin Kedokteran dan MIPA yang jelas-jelas mendaki dan jauh letaknya dari FISIP juga disambangi pada Jam Istirahat. Kuliah dengan Jam Istirahatnya adalah tahun-tahun terbaik dalam hidup saya.

Menyenangkan sekali memiliki Jam Istirahat bukan?; bergerombol, berbagi tawa, berbincang, menyemut di gerai jajanan, cuci mata, membaca novel penulis favorit di sudut ruang, menelepon belahan jiwa dan banyak hal menyenangkan lainnya… saat-saat menikmati hidup.

Kali ini rasanya Jam Istirahat saya memanggil. Bukan Bel listrik yang dipencet dan meraung-raung memenuhi ruang sekolah (saya selalu membayangkan sekolah dengan lonceng tergantung; semua sekolah yang saya masuki selalu tampil dengan bel listrik!)

Kalian lihat ada lonceng tergantung? di dekat pintu rumah senja yang saya bangun. Suaranya lirih… teng teng teng. Lonceng penanda Jam Istirahat.

Saya pergi dulu… mungkin ke gerai jajanan atau ke toko buku, sudah lama saya tidak memetik gitar, jadi percumbuan dengan alat musik petik ini tidak saya masukkan ke dalam opsi.

Saya masih akan mengetuk pintu rumah senja kalian. Duduk di kursi panjang dengan bantal-bantal yang lembut dan menikmati suguhan yang kalian sajikan. Sesekali meninggalkan jejak dengan semburat jingga di latarnya.

Jaga diri, banyak cinta untuk kalian… tetap jadi orang baik ya.

ps: maaf kalau selama ini ada tulisan saya yang mungkin kurang berkenan. Terima kasih telah bersedia untuk datang, berkunjung, menyapa, berbagi dan membangun jejaring lewat halaman putih ini. Kalau saya kembali nanti berikan saya pelukan terhangat yang kalian punya ya?…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *