Episode Biru

Saya seperti berada dalam labirin dan lalai meninggalkan remah roti untuk jalan pulang…

Telah saya coba beragam cara. Menonton, berjalan di tengah rintik hujan, mengagumi sore, makan siang dengan sahabat, minum milk shake cokelat, menelusuri Pasar Festival, ke toko buku, menyambangi toko kue dengan aneka tart kecil yang lezat, membaca dalam hening, bangun tidur lebih siang, mencoba Bus Way Blok M-Kota dan Kota-Blok M, berlama-lama di Disc Tarra, menghabiskan siomay Menteng, mendengarkan musik, duduk di sudut dengan es kacang merah di TIM, naik bus B2 Grogol-Pasar Baru… aktivitas yang membuat hidup menjadi lebih berwarna.

biasanya hal-hal kecil itu bisa menepis galau. kenapa kali ini semua tidak berfungsi?

Saya seperti berada dalam labirin dan lalai meninggalkan remah roti untuk jalan pulang…

Episode biru ini… sejak kapankah? yang saya tahu tidak ada lagi suara di rapat redaksi. ide-ide seperti menguap. sudah beberapa edisi terbit tanpa artikel panjang. mulai ketinggalan kartu nama dan terbengong dengan suksesnya saat mendekati sumber di satu acara. dan kartu pers? dimanakah gerangan? mengobrak-abrik meja dan menemukannya tertimbun di tumpukan kertas kerja. kembali ke kantor karena satu atau dua pernak-pernik yang tidak terbawa dalam ransel. saya juga kehilangan produsen tawa. seorang teman baik terkena imbas dari ketusnya ucapan yang keluar dari mulut.

Episode biru ini… sejak kapankah? pastinya sejak beberapa bulan belakangan ini. tapi saya selalu menyimpannya rapi, membungkusnya dengan tawa, memolesnya dengan senyum, memastikan tidak terjadi apa-apa dalam hidup.

tapi perasaan kosong terkadang menyelusup pelan. tak bisa saya bendung. perasaan yang saya sendiri kesulitan menggambarkannya. saya memilih untuk tidak berbagi, menelannya kembali dan merasakan pahit di ujung lidah.

tadi malam, saya terjaga. sunyi. rupanya saya terlelap sejenak di tengah antologi cerpen perempuan “seorang perempuan yang jatuh cinta pada laut”, setelah meletakkan kacamata di tempatnya dan mematikan ponsel, saya kembali sulit terpejam.

tanpa melepas kaos kaki (akhir-akhir ini Jakarta makin dingin di malam hari, nyanyian hujan menjadi lagu pengantar tidur yang menemani penduduk kota), saya mengambil sekotak es krim di freezer. menyendoknya…. coklat dengan butiran kacang yang bertaburan, membiarkannya meleleh di mulut.

duduk. sendiri. episode biru. perasaan kosong. es krim. butiran kacang. nyanyian hujan. dan… saya mengijinkannya jatuh, butiran bening, menggigit bibir agar tidak menuai isak. saya tak ingin membangunkan seisi rumah. tangis tanpa suara, lirih, ritmis.

Saya seperti berada dalam labirin dan lalai meninggalkan remah roti untuk jalan pulang…

yang saya ingat kemudian adalah membasuh muka, menyucikan diri dan bersimpuh di alas biru. hanya saya dan DIA. tak perlu berkata-kata, DIA paham yang ada di benak saya. dalam dekapan malam, setengah berbisik saya mengucap pelan… “Tuhan tolong beri saya kekuatan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *