Buat kamu…

Hai. Tadi saya lewat depan kantor kamu. Pagi hari saat berangkat liputan dan sore hari kala kembali ke kantor. Tak perlu membelalakkan mata; kamu tahu saya jarang libur di akhir pekan.

Siang tadi ada liputan ke Glodok. Sekarang Glodok bukan mimpi buruk lagi untuk saya. Sejak ada Busway, ups… salah, maksud saya TransJakarta, Glodok bisa diakses dengan mudah.

Tadi saya sempat mendongak lo. Saya lupa; kamu di lantai berapa? Percuma juga bertelepati; toh kamu tidak ada disana. Andai saja kamu bekerja hari ini.

Di liputan tadi; seorang penjaga sebuah toko memberi saya balon merah muda. Bentuknya hati. Cantik. Saya bingung bagaimana membawanya, hari ini saya tidak naik taksi. Tadinya itu untuk kamu. Saya ingin kamu turun ke lantai bawah. Balon merah muda itu untuk menebus apa yang saya lakukan kemarin.

Maaf ya; saya masih belum bijak rupanya. Menyatakan ketidaksetujuan dengan cara yang frontal. Dengan nada suara yang berubah serta kejengkelan yang tersirat. Itu bentuk lain dari protes saya atas sikap yang kamu ambil.

Saya sayang kamu. Sebagai teman, saya ingin yang terbaik yang datang dalam hidup kamu. Saya ingin dia yang kamu pilih setia menemani kamu menorehkan pendar pelangi dalam hidup.

Yang kamu jalani sekarang pasti sulit. Berada dalam hubungan yang sumir antara kamu, dia dan dia yang lainnya bisa jadi menguras pikiranmu. Ya… ya saya tahu; mestinya saya tidak perlu seketus itu.

Saya tidak bersikap layaknya teman. Tidak menyediakan telinga untuk mendengarmu. Tidak menyelipkan sabar dalam hati. Tidak memberikan jemari saya untuk memegangmu. Saya bahkan belum memberi sentuhan di pundak kamu dan berkata dengan pelan; semua akan berakhir dengan baik.

Ingat tiket Cold Mountain yang saya tawarkan?. Kamu masih ada di list paling atas. Tapi… kamu sudah menolaknya. Mudah-mudahan apa yang terlontar dari mulut saya kemarin tidak membuatmu menjauh. Jangan pergi… tangan saya sulit menggapaimu nantinya.

Jaga diri baik-baik. Minum obat; tenggorokan sakit itu mestinya diobati bukan dijamu dengan air es. Terus berdoa ya… agar titik terang turun ke bumi dan menemuimu di satu hari. Semoga akhir yang baik yang datang dalam kisah yang sedang kalian lakoni.

Salam

atta

ps: Balon merah muda yang cantik itu sudah diminta Dana tadi. “Tante Ratna… ini buat aku aja”. Saya ganti dengan makan siang ya? Kita cari hari yang tepat untuk itu.

updated : Senang sekali bisa mendengar suaramu lagi. Terima kasih untuk tidak tergesa-gesa meletakkan gagang telepon saat kamu tahu itu dari saya. Setelah liputan yang melelahkan; tawa kamu meluruhkan penat lho….
Dari kamu saya belajar banyak… I love u. Nggak marah lagi kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *