Ujung Januari; Berburu Senja di Satu Tempat..

“Ini tiketnya, jangan lupa check-in satu jam sebelum keberangkatan,” tutur staf ticketing seraya mengurai senyumnya.

“Terima kasih,” ucapku pelan.

Bukan begitu seharusnya. Adegan akan tampil lebih lengkap dengan sebentuk tawa, tatapan berbinar dan ucapan terima kasih yang kelihatan sedikit bersemangat. Belakangan agak sulit memproduksi senyum, awan kelabu masih saja menggelayut, meski segenap usaha telah dikerahkan untuk menghalaunya.

Tapi, jauh di palung hati; ada kegembiraan kecil yang tak dapat diungkap dengan kata. Perjalanan singkat berburu senja, hanya saya dan tepian langit, akan segera tergapai.

Saya, senja, burung besi, ujung januari, rajutan awan, riak pantai yang menggubah nada terbaiknya, lintasan waktu, celoteh enggang, canopy bridge (walau takut ketinggian, saya tetap tak sabar menitinya), Rusa Sambar, kapal melego jangkar, terbit mentari, kerlingan bintang, kecupan lembut pasir putih, harum hutan bakau…

Dalam iringan rintik gerimis, senja ini pesan singkatnya masuk :
“Hari ini aku belajar nulis untuk tajuk”

Mungkin saya akan menemui orang di balik pesan singkat itu sejenak, di tengah jeda perjalanan memburu senja. Dengan latar langit sore sehabis hujan…

Ujung januari, menunggunya datang menciptakan sensasi tersendiri… membuat budget (tahun ini saya harusnya menabung; tapi nikmatnya berpetualang masih meracuni pikiran), merancang perjalanan dan mengatur urutan tempat yang akan saya tuju. Hanya saya dan tepian langit…

Maaf jika beberapa hari ini semburat jingga sulit didapat, saya merengkuhnya dalam erat di pelukan, pendar keemasannya serupa dengan rasa bahagia saya menyongsong dini hari di ujung januari…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *