Tanpa Judul…

25 Desember 2003, Export, Jl. Sumatera, Bandung
Keluarga kecil, ayah, ibu dan putrinya. Si kecil tampak nyaman dalam pelukan ayah yang tengah memilih ransel. Karena ruang yang sejuk dan musik yang mengalun merdu, perempuan cilik dalam balutan busana casual berwarna pink tampak tertidur. Saya mengamati mereka dari kejauhan. Menghentikan kegiatan berbelanja dan sejenak mengamati aktifitas ketiganya. Sesekali tangan sang ayah mengusap punggung putrinya dengan lembut.

26 Desember, Lembang Kencana, Bandung
Udara dingin, angin sepoi-sepoi dengan ramah menerpa wajah. Kami, si lima sekawan yang sedang berlibur menaruh Lembang dalam list yang wajib dikunjungi. Di tempat yang kami singgahi, dengan interior kayu, kami menikmati sajian susu segar. Dari tempat saya duduk, saya dapat dengan leluasa melihat sekeliling… sampai mata saya tertambat pada satu pemandangan cantik; ayah yang sedang bersibuk diri mengganti pakaian putrinya. Di meja, sang putri sesekali melakukan gerakan, ayah menyediakan pertahanan ganda dengan tangannya. Tak jelas apa yang mereka perbincangkan, yang pasti saya melihat keduanya tersenyum.

27 Desember, Kartika Sari, Bandung
Ramai orang memilih, aneka buah tangan tersaji dalam display berlapis kaca. Di luar toko, banyak sajian lain yang juga patut dilirik. Berbaur dengan para pembeli yang lain. Batagor, rambutan, pisang sale, keripik oncom dan…. seorang pemain biola yang menyuguhkan lagu kanak-kanak. Laki-laki kecil terpaku di depannya. Mencoba menyimak dan mengikuti irama. Ayahnya melihat dari tempatnya berdiri, tak jauh dari tempat saya berdiri. Mengabadikan gerak-gerik putra tercinta dengan kamera… mendekat… mengusap sayang di helaian rambut sang anak. Saya tertegun…

Liburan di Bandung beberapa pekan lalu menyisakan kepingan momen yang tanpa sengaja bertebaran di sekeliling. Ungkapan kasih dari ayah pada anaknya… membawa saya pada sosok yang saat ini saya rindukan.

Rindu? adakah dia menyimpan rasa yang sama?…. Titik-titik penting dari seorang Ratna Ariyanti bahkan berlalu tanpa sosoknya, karnaval di taman kanak-kanak, pengambilan raport kenaikan kelas, pengumuman UMPTN, saat saya harus meninggalkan Jakarta untuk sementara waktu (bahkan beberapa sahabat mengantar saya hingga stasiun), wisuda di Desember yang penuh warna, saat saya dinyatakan layak bergabung dengan perusahaan tempat saya berkarya atau ketika saya memberanikan diri menerima kunjungan pacar pertama…

Putusnya pernikahan semestinya tak mematikan tanggung jawabnya sebagai ayah… semestinya….

Tak baik menyimpan dendam. Saya tahu itu. Perlu waktu lama untuk mematikan bibit rasa tidak peduli saya padanya. Memaafkan dan melupakan bukan satu pekerjaan yang mudah. Tapi tak bisa dipungkiri… sebagian darah yang mengalir di tubuh saya berasal darinya…

Saya, putri bungsunya, masih menyebut namanya dalam doa; semoga kesehatan selalu besertanya, semoga kebahagiaan menaunginya, semoga Tuhan melindungi setiap gerak dan langkah yang diambilnya…

Malam ini saya merasa sangat penat, hingga tak kunjung menemukan judul yang tepat untuk cerita kali ini….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *