Minggu yang cantik…

“Abang mau langitnya warna apa?”
Ungu bunda
“Oke, Abang bisa kasih warna ungu di langit”

Pendar matanya, saat penggalan kisah ini datang, tertangkap jelas dari tempatku. Rasa kasih dan segenap cinta terpancar dari senyum yang tak henti terurai.

Ah… pendar matanya kutemukan lagi kala ia bertutur tentang Dede. Gadis cilik yang bertaut sekitar 1,5 tahun dari Abang itu juga sumber inspirasi baginya.

“Kalau ujan, mereka suka main ujan. nggak pa-pa. selesai mereka ujan-ujanan, aku mandiin pake air hangat, bikinin susu coklat, terus ku selimutin, wah… seneng banget deh”

Perempuan di awal 30. Siapa sangka? dengan kemeja putih, kacamata, sepatu merah, postur yang mungil serta gaya bertutur dengan kecepatan tinggi, si mbak yang satu ini bisa jadi membuat orang salah menerka usianya.

“Kami juga suka liat awan. ke pinggir tol tanjung priok, Abang dan Dede seneng nebak bentuk awan yang mereka pandang”

Jalinan hari, hidup, rangkaian minggu, masa, memintalnya menjadi perempuan kuat. Perempuan cerdas ini mengingatkan saya pada sosok yang selama ini dekat, yang harum tangannya menanti saat saya kembali ke rumah. Bedanya hanyalah; Ma’e tidak familiar dengan bahasa Inggris.

Saya terbiasa menyambangi rumah senjanya jauh sebelum halaman negeri senja dibangun. Menyimak kisah, senyum, ritme kerja yang cepat, proses kreatif, dua permata hatinya atau nuansa merah jambu yang tersirat dari untaian kata yang diramunya.

Dan … di senja di Minggu yang cantik, sedikit pembangkangan kecil dari saya. (”boleh ya pak, besok saya pagi-pagi kesini lagi deh, cuma kurang tulisan GPRS aja kan?, ntar malem saya kerjain, senin siang sebelum bapak dateng, udah jadi deh. oke pak?”) Anggukan kepala redaktur yang bijak; pasti datang dari rasa sayangnya pada reporter tercinta, selama ini saya tak pernah meninggalkan deadline.

Pertemuan dadakan menjelang semburat jingga turun ke bumi. Satu dering telepon menjadi gerbang; temu muka saya dengan dua orang pemilik rumah senja.

Dua orang? ya … selain perempuan dengan tawa yang renyah, minggu yang cantik itu juga dihiasi dengan kehadiran laki-laki yang kerap meninggalkan jejak di negeri-senja. Laki-laki dengan selera humor yang tinggi, dengan sebentuk keramahan…

Kawasan Jalan Sabang, malam yang menyelimuti Jakarta, sate ayam, sembilan teh botol, satu piring pecah, rintik gerimis, lampu jalanan… beranjak ke Tebet, Daeng Tata, es palubutung (Hey… es durennya terlewat) masih ditemani rintik gerimis, pinggir jalan, deru mobil….

Ada keceriaan disana, berbagi cerita; tentang rumah senja, sahabat senja yang lain, cinta, harapan, hidup, keteguhan, kekuatan, semangat menyambut pagi… Suatu minggu yang cantik, hadiah dari Tuhan untuk saya.

Dalam perjalanan pulang, saya membayangkan wajah-wajah lain. Sahabat senja yang juga kerap menghiasi hari saya… semoga satu hari akan ada hari cantik yang lain, dengan kalian di dalamnya…

Untuk Morningdew dan Q ; terima kasih, senang sekali bisa bertemu kalian berdua…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *