Intermezzo

satu malam di bilangan palmerah, saat tengah menanti sahabat saya, yang juga wartawan, menyelesaikan tulisannya. mata saya tertambat pada satu artikel. saya tertarik untuk menuliskannya disini.

Jika nama anda berawalan R;

anda pribadi yang berorientasi pada tindakan. anda tak suka hal-hal yang kurang penting dan hanya membuang-buang waktu. anda membutuhkan pasangan yang dapat menandingi anda dan kecerdasannya setimpal dengan anda. bahkan makin cerdas makin baik. anda lebih tertarik pada otak yang encer ketimbang tubuh yang aduhai. daya tarik fisik tak terlalu penting bagi anda. anda perlu bukti si dia cukup layak untuk menjadi kekasih anda. anda juga perlu membuktikan bahwa diri anda pun oke. anda menginginkan umpan balik tentang performa anda. anda terbuka, bisa membangkitkan semangat dan romantis.
(diambil dari majalah Dewi, Januari 2004)

reaksi pertama saya; tersenyum lebar. padahal saya ingin sekali terbahak-bahak, ciri khas saya jika tertawa. tapi hey… ini bukan Slipi, gedung lima belas lantai tempat biasa beraktifitas. jadi saya sedikit menahan diri dan menuliskan penggalan artikel tadi di notes kecil yang biasa menemani liputan.

“Adakah semua perempuan berawalan R serupa dengan penggalan artikel diatas?”

deadline sudah pulang ke kampung halamannya kemarin malam. siang ini saya berniat mencuri waktu dan mengisi Kamis nan eksotis dengan pameran fotografi Arbain Rambey bertajuk “Senyap” di Bentara Budaya Jakarta. siapa tahu Tuhan mengutus cowok keren yang cerdas dengan T-shirt putih dan jeans biru arah jam… (jam berapa ya kali ini?) yang pandai menjalin kata dan hidup dengan selera humor yang tinggi. lebih lengkap lagi kalau dia juga bersahabat dengan senja…

“O… kamu suka Arbain Rambey juga”
iya.

atau

“fotografer?”
bukan
“wartawan?”
iya
“wah sama dong”

saat tangan kami bertemu, harum hutan berpindah ke ruang pameran, sebuah bisikan dari belakang telinga terdengar… lirih tapi sangat jelas; Yup… He’s the one!

hahahaha… berhenti menghayal. saya pergi dulu ya… wish me luck this time (kali ini saya terbahak-bahak, It’s ok, ini Slipi, gedung lima belas lantai, tempat biasa beraktifitas. tertawa tidak dilarang disini…)

Plesiran Tempo Doeloe…

Saya, shanty, passer baroe, gedung kesenian Jakarta alias Stadschouwburg, rumah Tio Tek Hong, roti buaya, cowok keren arah jam satu *ngakak Mode ON*, Andra-guide kami yang smart meski terkadang dibumbui dengan “Wah kalau yang itu saya mesti riset dulu nih, kelompok 1 yang kritis… “terus jembatan penyebrangan ini dibangun tahun berapa?”, stasiun Juanda, Jalan Pos, Ondel-ondel

eh… Ochan, duh mesti kerja ya? sementara kita berputar-putar menyusuri jejak, sahabat senja yang satu ini justru bekerja keras membanting tulang. “Asli tambah gendut !” gurat kecerdasan tak pernah pudar dari wajahmu. mmm… kaos biru Soe Hok Gie-nya keren. kamu juga keren. hahahaha. aku juga keren kan?

bajaj tak terlupakan, kurnia dan doddy, dua teman baru yang mengundang decak kagum. “Bener nih kita nggak pernah ketemu sebelumnya, rasanya seperti sahabat dari masa lalu”, harmoni, bus way dan berakhir di Komdak.

saya memendam rindu pada rumah senja kalian. tapi deadline ternyata masih mencintai dan merengkuh saya erat. setelah ini plesiran masih jadi cerita menarik untuk dituturkan.

banyak rindu untuk kalian….

Selamat ulang tahun….

banyak yang keliru mengeja nama saya. kredi, gradi, grady, greedy dan lain sepengucapannya. apalagi orang-orang tua. hanya simbah saya saja yang fasih memanggil nama saya.

gredi. lengkapnya gredika. panjangnya gredika noor hanes. biasa saya singkat gredika enha. teman-teman memanggil saya gre, gred, dee, atau dika. tapi saya lebih senang dipanggil gredika. maka jangan keliru lagi mengeja nama saya ya..
(dikutip dari daun lontar)

saya tak pernah keliru mengeja namanya. biasanya saya menambah sapaan “mas” didepannya. Mas Gre, usianya tiga tahun diatas saya.

meski telah memanggil memori yang tersimpan, kepingan yang satu itu tak kunjung tiba, saya tak ingat kapan pertama kali menemukannya. yang pasti, saat itu saya hanya berbekal alamat surat elektronik. meninggalkan jejak berupa ucap di rumah senjanya.

sejak pertama kali bertamu, daun lontar dengan nuansa coklat telah menyihir saya. roncean aksara yang lahir dari tangan laki-laki asal margasari ini seperti magnet, menarik saya untuk datang dan datang lagi.

roncean aksara… disana ada hidup, canda, teka teki, tawa, cinta, senyum, persahabatan, puisi, cerita bijak, kisah laba-laba yang menuai titik bening di ujung kelopak mata.

roncean aksara menghantarkan saya pada kecantikan solo, kota yang menempati ruang kecil di hati saya saat ini. setiap kali menginjakkan kaki di daun lontar, saya seperti berada di boulevard kampus, bunga kuning kecil luruh dari pokok pohon, Ir. Sutami, puncak lawu dari kamar kost, singosaren. betapa saya merindukan denyut nadi solo dalam setiap helaian nafas…

lebih dari itu, roncean aksara laksana sahabat yang mengulurkan tangan dengan ramah. ayah dengan satu putra ini bertanya, menjawab, petuah bijak yang mampu mengurangi beban saat pundak ditumbuhi gundah. dia teman berbagi yang menyenangkan, tahu kapan harus menyelipkan gurauan agar senyum kembali tersungging.

setelah “dia yang namanya tak boleh disebut” nuansa langit sore sehabis hujan datang lewat goresan di daun lontar. butiran air mencuci cakrawala yang membentang, biru dengan sapuan awan tipis…

terima kasih. untuk penggalan kisah yang selalu tersaji.
terima kasih. untuk roncean aksara yang memukau
terima kasih. untuk petikan-petikan bijak
terima kasih. untuk memberikan secercah harapan; bahwa esok pasti lebih baik…

selamat ulang tahun mas gre. maaf telat :). semoga lebih baik, sehat dan keberkahan selalu menaungi keluarga, semoga semua asa dapat terwujud. salam sayang saya untuk i maheswara cetta gantari, jagoan yang pasti tak kalah ganteng dengan ayahnya juga untuk mbak putri, istri tersayang.
tetap meronce aksara ya…

Pakai saja yang putih…

Pakai saja yang putih. kemeja lengan pendek itu. bagaimana kalau dipadankan dengan jeans hitam. Manis kan? hitam dan putih lebih abadi. warna yang menjadi simbol dari dua sifat yang bertolak belakang. jangan lupa ranselmu.

Pakai saja yang putih. baju koko dengan aksen bordir yang panjang, menyembunyikan barisan kancing di dalamnya. sinergikan dengan sarung biru. harum mu tertinggal kala punggungmu menghilang. sekarang aku tahu kenapa Tuhan mewajibkan dua rakaat sholat setiap jumatnya. selain menjaga keimanan, sujud dan ruku’ juga menambah ketampanan.

Tak percaya? selekas salam, wajah kalian tampak dua kali lebih rupawan. Tidak termasuk kamu sayang… Setelah kuamati lekat-lekat, kamu tiga kali lebih tampan dari jumat kemarin. jadi jangan lagi bersorak saat hujan deras tiba. tak kutemukan petikan ayat di kitab suci yang menyebutkan dua rakaat itu bisa ditiadakan karena butiran air yang melimpah turun ke bumi.

Pakai saja yang putih. yang kamu beli dengan binar mata, penuh suka cita, karena menemukan tokoh kesayanganmu tercetak dengan gagah di belakangnya. senyum mu tak henti terurai. Dan kamu hadir dengan celana gunung hijau yang menjadi saksi persahabatanmu dengan alam. Lima kuntum bunga liar dan kupu-kupu kuning yang membuntutimu, terbang rendah di atas kepala. “ini untukmu, seorang penggembala terlalu bersemangat mencabut rumput, bunga ini terpisah dari rumahnya”

Pakai saja yang putih. T-shirt polos dengan ikon laba-laba di sudut kiri. 100% cotton. nyaman kan? dan jeans biru dengan warna yang mulai pudar itu menyulapmu menjadi sosok yang menawan. berjalan bersisian sambil menghirup dalam-dalam wangi tanah seusai rintik menyapa. energi kasih mengalir dari jemari kita yang bertautan. dalam diam dapatkah kau menyimaknya; aku mencintaimu… sangat

Ujung Januari; Berburu Senja di Satu Tempat..

“Ini tiketnya, jangan lupa check-in satu jam sebelum keberangkatan,” tutur staf ticketing seraya mengurai senyumnya.

“Terima kasih,” ucapku pelan.

Bukan begitu seharusnya. Adegan akan tampil lebih lengkap dengan sebentuk tawa, tatapan berbinar dan ucapan terima kasih yang kelihatan sedikit bersemangat. Belakangan agak sulit memproduksi senyum, awan kelabu masih saja menggelayut, meski segenap usaha telah dikerahkan untuk menghalaunya.

Tapi, jauh di palung hati; ada kegembiraan kecil yang tak dapat diungkap dengan kata. Perjalanan singkat berburu senja, hanya saya dan tepian langit, akan segera tergapai.

Saya, senja, burung besi, ujung januari, rajutan awan, riak pantai yang menggubah nada terbaiknya, lintasan waktu, celoteh enggang, canopy bridge (walau takut ketinggian, saya tetap tak sabar menitinya), Rusa Sambar, kapal melego jangkar, terbit mentari, kerlingan bintang, kecupan lembut pasir putih, harum hutan bakau…

Dalam iringan rintik gerimis, senja ini pesan singkatnya masuk :
“Hari ini aku belajar nulis untuk tajuk”

Mungkin saya akan menemui orang di balik pesan singkat itu sejenak, di tengah jeda perjalanan memburu senja. Dengan latar langit sore sehabis hujan…

Ujung januari, menunggunya datang menciptakan sensasi tersendiri… membuat budget (tahun ini saya harusnya menabung; tapi nikmatnya berpetualang masih meracuni pikiran), merancang perjalanan dan mengatur urutan tempat yang akan saya tuju. Hanya saya dan tepian langit…

Maaf jika beberapa hari ini semburat jingga sulit didapat, saya merengkuhnya dalam erat di pelukan, pendar keemasannya serupa dengan rasa bahagia saya menyongsong dini hari di ujung januari…