Saya dan wawancara…

Ini langkah kedua dari lima tahapan yang mesti kujalani. Setelah tes tulis, kali ini giliran wawancara dengan jajaran redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi. Bergabung dengan para pencari kerja lain di ruang tunggu sebelum memasuki empat kubus tertutup.

Namaku disebut. Rasa gugup yang coba kuusir sejak tadi, menyergap kembali. Memasuki kubus, detak jantung makin tak beraturan. Setelah membaca file yang tergeletak di meja, laki-laki paruh baya dihadapanku mulai mengeluarkan suaranya.

“jadi… kamu tertarik untuk bergabung disini”
retorik, pikirku. Kalau menolak bergabung untuk apa kulayangkan surat itu.
-iya pak-
“sering baca koran”
-iya- (diiringi anggukan kepala)
“kenapa?”
-kebutuhan pak-
“kalau gitu sering baca B*S**S I***N***A donk?”
-gak juga pak-
(bodoh, kenapa tidak berbohong dan merangkai kalimat indah)
“lo… kenapa?, gak penting ya?, terus, biasanya baca apa”
-K*M**S, sesekali K*R*N T*M*O
(menyebut kompetitor? selamat atta, kamu membuat darahnya mendidih)
“ngikutin isu ekonomi nggak”
-biasa aja, nggak terlalu detail
(aduh… jawabanmu itu lo sayang…)
“yang lagi hangat apa sekarang”
-harga gula makin tinggi pak-
(ck..ck..ck.. nona, kamu bisa pilih isu yang lebih keren kan? Bank Mandiri atau isu yang lain)
“kamu masih kerja ya?, pakai SDN BHD? Perusahaan malaysia? Di bagian apa?”
-marketing export pak-
“kenapa pengen pindah?kamu nggak loyal donk?”
(terbayang wajah-wajah menyenangkan. chelaine soo di headquarter, pairin boonsong di thailand, andrew di singapura dan rekan-rekan ceria di perwakilan indonesia. kenangan manis yang berganti pada sosok mr. Ng, dengan prinsip kesempurnaan yang diterapkan, dan target-target dalam dolar yang sudah tidak masuk akal)
-saya rasa, saya harus mencari pekerjaan yang mencintai saya pak-
(aha… say the magic words, inspirasi kilat yang datang, tidak klise dan unik, tidak curhat tentang kebetean di tempat lama)
“kalau bergabung disini, kamu mau nulis apa”
-film, budaya, sosial-
(eit… sadar donk. ini koran ekonomi bu!, tapi kan ada edisi minggu. ya sudahlah, toh sudah terucap)
“kamu lulusan komunikasi, mampu nulis ekonomi nggak?”
-maaf pak, background bapak apa?-
(mengambil posisi penanya? apa maksudnya nih?)
“Pertanian”
-nah… bapak yang pertanian saja bisa. kenapa saya enggak. (mudah-mudahan egonya tak terusik)
“ah kamu bisa aja… bener, siap jadi wartawan?”
-cita-cita terpendam kali pak-
(media cetak? yang bener ah… jujur nggak? bohong kali… bukannya binar mata akan lebih berpijar selagi menonton tayangan informasi via layar kaca)
“biasa nulis?”
-gak juga pak-
(hahahaha… wartawan kok nggak biasa nulis)
“terus kamu ngambil ini buat apa?”
(si bapak menunjuk sertifikat tanda selesai kelas penulisan yang dikeluarkan dari lembaga pendidikan kantor berita tanah air)
-karena saya nggak pinter nulis, akhirnya saya ngambil kelas-
“sekarang udah pinter donk?”
-enggak juga pak-
kali ini saya dan si bapak sama-sama tergelak.

Tiga penanya lain menciptakan nuansa senada. Penuh selidik… Saya sangat tak yakin mereka akan memberi angka yang cukup baik pada form penilaian. Tapi… nampaknya dewi keberuntungan sedang berada didekatku. Sekarang… saya disini, di meja kerja saya sendiri yang hanya berjarak beberapa kubus dengan bapak penanya diatas. Bukan di ekonomi, tapi di dwi mingguan tentang teknologi. Hanya sesekali saja saya menulis untuk harian. Memasuki tujuh bulan masa kerja… dan… psst… kalian dengar tidak; Pekerjaan ini mencintai saya… :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *