Persembahan…

Kalian sapa dengan apa perempuan pemilik hati seluas bentangan langit, penghasil kasih yang setia mengalir, segala kelembutan yang tak pernah kering.

ibu, mama, bunda, ummi….

Aku menyapanya dengan Ma’e. Perempuan kelahiran Purworejo, lebih dari setengah abad yang lalu ini meminjamkan rahimnya untukku. Memberi naungan selama sembilan bulan sepuluh hari. Mempertaruhkan hidupnya di April yang dingin untuk menghadirkan satu lagi penghuni bumi.

Ma’e? aku sempat berusaha keras mengganti sapaan ini kala menapaki masa remaja. Ndeso kedengarannya. Usaha yang menuai kegagalan, karena hingga hari ini, perempuan bijak ini tetap menyandang sapaan Ma’e.

Ma’e penanda ketegaran. Dengan kesendiriannya, ia melindungi dengan segenap cinta. Tak pernah mengobarkan kebencian pada laki-laki yang kami panggil bapak, meski kami terpisah jarak. Keputusan yang diambil puluhan tahun lalu menghadapkan ia pada konsekuensi baru; berdiri di atas kaki sendiri, melindungi kami, aku dan kakak laki-lakiku, dan meneruskan hidup tanpa pernah menoleh ke belakang.

Ma’e sumber kelembutan. Dalam tidur yang lelap, acapkali aku terbangun. Mendengar langkah kaki mendekat, ia membetulkan letak selimut dan meninggalkan hangat di kening.

Ma’e menyiratkan kesabaran. Dalam sejarah, hanya sekali dia menggunakan tangannya untuk menegaskan kemarahan. Cubitan di paha kanan empat belas tahun silam, membuat putri bungsunya mengurung diri di kamar. Saat lapar mendera, si putri tetap tak beranjak. Ma’e datang membujuk dan mengucap maaf atas apa yang diperbuat.

Belakangan, waktuku bersamanya terpangkas beragam aktifitas kerja. Proteskah Ma’e?
Masih dengan nada yang sama tiap malamnya, ia tak pernah bosan bertanya; Besok liputan jam berapa dek?, mau dibangunin pagi?, sarapan apa?

Di usianya yang merambah senja, belum banyak yang aku lakukan untuk perempuan dengan senyum seringan kapas, meski aku tahu tak sekalipun ia mengharap pamrih atas apa yang ditorehkannya.

Di 22 Desember yang hampir habis, hanya ini persembahanku untuknya; terima kasih Ma’e…

One thought on “Persembahan…

  1. Tak terasa membaca ini saya ‘terdorong’ memencet tombol handphone, menyapa Ibu yang jauh di sana.

    Hanya ‘kata’ sebenarnya cukup membuatnya tenang dan tentram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *