Menjadi Mesin

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? sampai di meja kerja pada saat matahari masih lembut di kulit dan pulang saat bintang tersenyum.

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? tak lagi menyempatkan diri menengok pijar keemasan di rembang petang, tak perlu berlama-lama mengagumi gerimis, berharap tak menjumpai sinergi ragam warna saat serbuk hujan menyapa bumi, juga mulai menghindari fajar. melihat siklus terbit dan tenggelamnya sang surya hanya akan menghambat proses pembentukan diri menjadi mesin

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? mematikan kasih, memadamkan sayang, meluruhkan rindu. menaruh sosoknya di sudut ruang, mengunci rapat-rapat bias kenangan. pastikan tak ada celah. mesin tak pernah bernostalgia…

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? meminggirkan perih, membakar asa, membuang kesal. mesin tak mengenal rasa…

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? menghapus hangatmu dari benakku, mengaburkan bayangmu dari pikirku, mengubur tawamu dalam-dalam, dan memudarkan mimpi akan kamu, aku, kita…

Dan satu mesin baru telah lahir pada malam ini…

One thought on “Menjadi Mesin

  1. …untuk jaman kayak gini kayaknya banyak yang diharuskan jadi mesin, Ta. Tapi haruskah kita menjadi mesin dengan membuang semua rasa dan kenangan?

    Atta yang baik, dunia kita saat ini is too complicated. Satu peristiwa akan berpengaruh terhadap peristiwa lainnya. Politik, ekonomi, budaya, and so on… Semua ibarat jalinan temali yang sulit untuk dicari ujungnya. Dalam jalinan ini, banyak sekali orang2 yang dirugikan, kesakitan dan menderita. Bahkan mereka yang sudah menjadi “mesin2 bernyawa”.

    Haruskah semua menjadi mesin, Atta? Kemudian siapa yang akan membuat wajah dunia menjadi sedikit lembut dengan kasih dan sayang pada sesama… Jangan jadi mesin, Atta…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *