Dimana Kalian Bertemu?

“Lalu…..dimana kalian bertemu?”

Pertanyaan ini kerap terlontar ketika para sahabat memperkenalkan pujaan hati mereka, terutama jika si pasangan berasal bukan dari jejaring pertemanan kami.

Jawaban yang keluar pun sangat bervariasi. Kebanyakan terlontar dengan pandangan menerawang dan senyuman, mencoba mengingat awal perjumpaan yang akhirnya menjadi tonggak bersejarah dalam hidup mereka.

-Di masjid Al-Azhar- ini jawaban dari Faisal, sahabat saya semasa kuliah yang akan mempersunting gadis manis berjilbab tahun depan.
-Di kereta api- yang ini melengkapi kisah Wahyu, teman kost saya yang akhirnya menikah dengan teman satu bangku di perjalanan Jakarta – Semarang.
-Di bursa efek jakarta- rekan satu kantor saya akhirnya menemukan jodoh sesama wartawan yang meliput kegiatan bursa.
-Di kampus- wah… jangan paksa saya untuk menyebut siapa saja yang bertemu dengan soul mate mereka di perguruan tinggi. Daftarnya bisa sangat panjang dan tak cukup satu kali posting.
-Di gunung ciremai- ini versi si dewi selebriti, ine febriyanti dan yudi datau, meski keduanya tak langsung jatuh hati saat pertemuan pertama.

Dan beragam nama tempat lainnya bisa muncul, mewarnai kisah yang terjalin. mIRC, toko buku, fitness centre, senayan, bis kota, stasiun, tempat kerja, supermarket, mal, halte bis, kafe, galeri, taman ismail marzuki, bandara…

Dalam format masa depan nanti, di beranda rumah dengan halaman yang asri. Pertanyaan senada akan lahir dari mulut si sulung. Dan saya, ibunya, akan menjawabnya dengan kasih, sambil membelai rambutnya penuh sayang dan sesekali menatap laki-laki yang menemani saya hingga ujung waktu….

“Ketika langit dihiasi semburat keemasan, ibu menemukan rumah senja ayahmu. Rumah senja yang nyaman dengan untaian kisah yang ibu yakin keluar dari seorang pria yang cerdas. Tak ada sesuatu yang terjadi antara kami… hingga satu hari ibu memberanikan diri mengirimkan sepucuk surat padanya, hanya sekedar menyapa. Dan… perjumpaan kami berikutnya mengantarkan ibu pada sosok yang tidak hanya ramah tapi juga hangat. Perlahan mulai tumbuh rindu ketika suaranya tak menyapa. Namanya lalu mulai tersebut dalam hembusan doa; Semoga Allah menjaganya dan memberinya kekuatan. Dia laki-laki yang datang bersama fajar, melengkapi semburat keemasan kala senja… membuat hidup terus berputar, mengisi…berbagi.”

Ini kisah saya. Bagaimana dengan kalian….di manakah kalian bertemu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *