Bercumbu dengan Deadline…

Kembali dari liburan singkat yang memukau, Bandung dengan sejuta pesona yang ditawarkan. Tak heran jika banyak orang yang memendam rindu pada kota kembang nan elok ini. Saya yakin; ada ratusan skenario yang tertata apik dan melibatkan Bandung di dalamnya…

Dan… kembali lagi kemari; Jakarta, gedung jangkung, lalu lintas yang padat merayap, harum Slipi, gedung 15 lantai, komputer yang tetap setia, 12 kuntum bunga matahari imitasi yang manis di sudut meja, kalender baru bergaya futuristik dari vendor ponsel, kotak Toraja tempat kartu nama, si gembul biru dengan deretan angka yang mengingatkan waktu terus beranjak…

Saya kembali bercumbu dengan deadline. Flu yang menyerang, tulisan yang belum kelar, narasumber yang enggan menjawab panggilan telepon, redaktur yang dengan manisnya menagih tulisan;

“Nanti kalau tulisan kamu nggak kelar, nggak ada tulisan naik yang nggantiin, biarin aja space putih kosong… lengkap dengan tulisan yang dirangkai dari huruf kapital : INI MESTINYA TULISAN SI RATNA”….

Dan kami terbahak-bahak bersama. Ah… bahkan dalam himpitan waktu, redaktur tercinta masih bisa mencairkan suasana.

Jadi maafkan saya jika belum sempat berkeliling, menjenguk rumah senja ramah yang lain. Segera setelah percumbuan ini rampung, saya segera bertamu. Tunggu saya ya…

Libur…

Akhirnya gegap gempita libur sampai juga ke meja saya. Yippie…

Rasanya lebih membahagiakan ketimbang libur menjelang lebaran beberapa pekan lalu. Mungkin karena dulu saya dapat memastikan, liburan sama artinya dengan duduk manis di rumah saja.

Tapi libur kali ini akan saya isi dengan bepergian (sempat mengurangi semangat libur karena penerbangan ke Kalimantan laris manis dan tidak tersisa, telat sih!).

Untungnya saya masih memiliki teman-teman redaksi yang manis dan baik hati. Jadilah kami, si lima sekawan berlibur ke Bandung. Kota cantik, yang katanya, diciptakan selagi Tuhan tersenyum.

Sudah terbayang di depan mata, Kampung Daun, Distro, Factory Outlet, Palasari dan aneka tempat lainnya. Lumayan untuk mengisi kembali semangat hidup setelah setiap hari ditempa wawancara dan beragam tulisan.

Saya berlibur dulu yah… tolong jaga rumah senja ini selagi saya pergi. Take care semua… semoga liburan kalian penuh kebahagiaan… See u soon.

Persembahan…

Kalian sapa dengan apa perempuan pemilik hati seluas bentangan langit, penghasil kasih yang setia mengalir, segala kelembutan yang tak pernah kering.

ibu, mama, bunda, ummi….

Aku menyapanya dengan Ma’e. Perempuan kelahiran Purworejo, lebih dari setengah abad yang lalu ini meminjamkan rahimnya untukku. Memberi naungan selama sembilan bulan sepuluh hari. Mempertaruhkan hidupnya di April yang dingin untuk menghadirkan satu lagi penghuni bumi.

Ma’e? aku sempat berusaha keras mengganti sapaan ini kala menapaki masa remaja. Ndeso kedengarannya. Usaha yang menuai kegagalan, karena hingga hari ini, perempuan bijak ini tetap menyandang sapaan Ma’e.

Ma’e penanda ketegaran. Dengan kesendiriannya, ia melindungi dengan segenap cinta. Tak pernah mengobarkan kebencian pada laki-laki yang kami panggil bapak, meski kami terpisah jarak. Keputusan yang diambil puluhan tahun lalu menghadapkan ia pada konsekuensi baru; berdiri di atas kaki sendiri, melindungi kami, aku dan kakak laki-lakiku, dan meneruskan hidup tanpa pernah menoleh ke belakang.

Ma’e sumber kelembutan. Dalam tidur yang lelap, acapkali aku terbangun. Mendengar langkah kaki mendekat, ia membetulkan letak selimut dan meninggalkan hangat di kening.

Ma’e menyiratkan kesabaran. Dalam sejarah, hanya sekali dia menggunakan tangannya untuk menegaskan kemarahan. Cubitan di paha kanan empat belas tahun silam, membuat putri bungsunya mengurung diri di kamar. Saat lapar mendera, si putri tetap tak beranjak. Ma’e datang membujuk dan mengucap maaf atas apa yang diperbuat.

Belakangan, waktuku bersamanya terpangkas beragam aktifitas kerja. Proteskah Ma’e?
Masih dengan nada yang sama tiap malamnya, ia tak pernah bosan bertanya; Besok liputan jam berapa dek?, mau dibangunin pagi?, sarapan apa?

Di usianya yang merambah senja, belum banyak yang aku lakukan untuk perempuan dengan senyum seringan kapas, meski aku tahu tak sekalipun ia mengharap pamrih atas apa yang ditorehkannya.

Di 22 Desember yang hampir habis, hanya ini persembahanku untuknya; terima kasih Ma’e…

Lewat tangan dokter Hajat…

gadis kecil itu tergolek. merajut mimpi. dalam tujuh putaran senja ia tak terbangun. tetap lelap dalam tidurnya. usianya baru empat tahun kala itu. lantunan ayat suci menghiasi ruangan. kalau memang ini saatnya, orang-orang terkasih telah mengikhlaskannya, melapangkan jalannya…

setiap hari dokter Hajat menjenguk. masuk ke dalam ruang kaca, memegang tangan gadis kecil, memeriksa selang infus, mengajaknya berbicara, memberi dorongan pada keluarga. hingga… di hari kedelapan, tangan mungil itu bergerak. ia terbangun dari mimpinya.
(seperti yang diceritakan ibu padaku)

skenario hidup tertata begitu cantik. berkantor di depan rumah sakit tempat ia terbaring dahulu, memungkinkan perempuan berusia 24 tahun itu memandangi gedung dengan nuansa hijau setiap saat, kapanpun ia mau…

saat senggang dan keletihan menyapa, ia akan berdiri dan berpikir; kira-kira apa ya yang dilakukan tubuh kecilnya saat tertidur dalam sepekan? bisa jadi ia bercanda bersama malaikat atau membuat perjanjian dengan Pemilik Hidup. Zat yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

“Tidak. kau terlalu tangguh untuk kupanggil. masih banyak senyum yang bisa ditebar, kebahagiaan yang bisa disemai dan kebaikan yang bisa ditanam. hidup adalah sistem dan kau bagian darinya. pulanglah, temui orang-orang penuh kasih di sekelilingmu. jadilah kuat, karena satu ujian telah kau lewati”

dan ruh kehidupan menempati raga gadis kecil. lewat tangan dokter Hajat, ia kembali mengisi hidup, merajut tawa, melepas sedih serta membangun harap…

Untuk dokter Hajat atas apa yang dilakukannya sembilan belas tahun yang lalu. terima kasih telah menaburkan semangat dan keyakinan akan terjaganya sosok kecil yang terbaring…

Menjadi Mesin

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? sampai di meja kerja pada saat matahari masih lembut di kulit dan pulang saat bintang tersenyum.

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? tak lagi menyempatkan diri menengok pijar keemasan di rembang petang, tak perlu berlama-lama mengagumi gerimis, berharap tak menjumpai sinergi ragam warna saat serbuk hujan menyapa bumi, juga mulai menghindari fajar. melihat siklus terbit dan tenggelamnya sang surya hanya akan menghambat proses pembentukan diri menjadi mesin

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? mematikan kasih, memadamkan sayang, meluruhkan rindu. menaruh sosoknya di sudut ruang, mengunci rapat-rapat bias kenangan. pastikan tak ada celah. mesin tak pernah bernostalgia…

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? meminggirkan perih, membakar asa, membuang kesal. mesin tak mengenal rasa…

Perlahan-lahan mengubah diri menjadi mesin. Caranya? menghapus hangatmu dari benakku, mengaburkan bayangmu dari pikirku, mengubur tawamu dalam-dalam, dan memudarkan mimpi akan kamu, aku, kita…

Dan satu mesin baru telah lahir pada malam ini…