Saya dan Amplop

Jam baru menunjukkan pukul 09.45 WIB ketika saya memasuki halaman kantor. Matahari masih hangat menyapa kulit. Setelah menggesekkan kartu absen, dimulailah ritual rutin yang biasa saya jalankan.

Mengambil koran pagi, berjalan ke kubus sambil melirik sekilas headline yang dipilih sidang redaksi untuk menghias produk kami dan menghidupkan komputer setibanya di meja kerja tercinta.

Dering ponsel memecah kesunyian, nomor asing yang masuk.

“Pagi”
-Halo Rat?- (suaranya sudah saya kenal, si public relations di sebuah perusahaan elektronika ini sebaya dengan saya. Obrolan di antara kami cukup dengan menyebut nama)
“Kenapa? Mau kasih release lagi?” (Belakangan perusahaan dari negeri ginseng ini cukup gencar meluncurkan produk baru)
-Nggak, maaf ya yang kemarin-
Saya tertegun sejenak. “Ah nggak pa-pa kok”
-abis kalo udah nyampur gitu, suka susah bedainnya-
Obrolan singkat kami menemui ujungnya dengan satu kata maaf lagi yang keluar dari perempuan ramah ini.

Biasanya saya selalu bisa menolaknya dengan halus ketika wawancara berlangsung secara eksklusif. Saya beberapa kali datang ke kantornya di bilangan Slipi dengan perjanjian yang sudah dirancang beberapa hari sebelumnya. Lulusan perguruan tinggi negeri di Bandung ini selalu menemani saya selama wawancara dengan aneka General Manager dan Product Development. Semestinya dia tahu saya tak terbiasa menerima itu.

Tapi yang terjadi satu hari sebelum penggalan obrolan diatas bukanlah wawancara eksklusif. Press Conference alias konferensi pers biasanya selalu didatangi banyak media.

Setelah acara selesai, saya terpaksa menemui perempuan berkulit putih ini kembali. Saya malas membawa amplop ini sampai ke kantor, menyerahkannya pada sekretaris redaksi dan mengembalikan melalui pos. Akhirnya saya berhasil menarik si cantik dari keramaian dan dengan santun mengembalikan benda mungil berwarna putih di dalam tas kertas yang dibagikan untuk rekan media.

Bukan saya tak butuh uang. Walaupun tidak banyak, apa yang diberikan perusahaan saya rasa sudah cukup

(Bukankah rasa kecukupan bersemayam di hati? ketika Tuhan memberikan rejeki yang diselipi keberkahan, rasanya kok ya cukup. Cukup untuk creambath, membawa karya Djenar, Ayu Utami atau Fira Basuki ke rumah, pulang atau pergi liputan dengan Blue Bird, nonton film, atau berenang. Sebaliknya ketika uang berlimpah dan rasa syukur tak sedikitpun mampir di hati, apa saja yang kita miliki, katanya, tetap saja gagal menghapus dahaga).

Tidak bijak rasanya menambah pundi uang dengan cara seperti itu. Takut ada rasa hutang budi ketika berita tak jadi turun. Saya juga bisa lebih bebas menulis. Ketika mereka di ambang kesuksesan atau menuai kegagalan, saya tetap menceritakannya tanpa beban yang menggelayut.

Tapi akhir-akhir ini wish list saya rasanya makin panjang saja. Ada niatan mengistirahatkan si ponsel low end dan mempekerjakan yang agak mid end Atau membeli voice recorder digital. Saya juga tak sabar melongok gerai Palm di Ratu Plaza. Kartu nama narasumber yang berserakan mungkin bisa teratasi dengan bantuan Mr. Palm ini. Kamera digital terbaru, lebih cantik dari milik redaktur saya yang biasanya saya tenteng menemani liputan, terus menari-nari di pelupuk mata.

Rasa-rasanya ini momen yang tepat untuk mendalami kembali makna kata “cukup….” dan mengekalkan lagi ikhtiar saya.

*Tulisan ini dibuat untuk para jurnalis yang tetap teguh di jalan yang benar*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *