Santa Cruz, Timor Leste

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara….(SGA)

Santa Cruz, 12 November dua belas tahun lalu.

Di sebuah pemakaman, ribuan anak muda memenuhi ruas jalan. Tak lama berselang, rentetan tembakan terdengar. Menyalak dengan garang. Ratusan orang bersimbah darah, tertelungkup, tak berdaya, menemui maut tanpa sempat melakukan perlawanan. Kalaupun sempat, apa yang bisa mereka perbuat. Desingan mesiu jauh lebih kuat ketimbang mereka yang bertangan kosong…

Keesokan harinya, orang-orang yang dijemput tanpa pernah kembali terus bertambah jumlahnya.

Kecelakaan biasa. Begitu pemerintah menamainya. Dan pengawasan ekstra ketat diambil sebagai langkah untuk membungkam banyak mulut. Rakyat tak perlu tahu…

Ribuan kilometer dari Santa Cruz, seorang redaktur di satu majalah merasa tak cukup dengan hanya berdiam diri dan memalingkan nurani. Berani bertatapan langsung dengan penguasa kala itu, ia bersama dengan dua sejawatnya, menurunkan tulisan pandangan mata tentang apa yang terjadi pada selasa kelabu.

Tulisan yang akhirnya berujung pada pencopotan ketiganya dari rumah berita yang mereka kelola. Pencopotan yang tak lantas membungkam suara hati…

Lima tahun berlalu. Dengan anggun, ia sebarkan kabar duka melalui caranya sendiri. Bertajuk “Jazz, Parfum dan Insiden”, buku ini menjadi pernikahan antara fiksi dengan unsur realitas. Santa Cruz kemudian hadir menyeruak dan menyelusup kembali dalam ingatan.

Santa Cruz hanya bagian kecil dari sejarah kelam negeri kita tercinta. Negeri yang tak pernah belajar dari masa lalu. Negeri yang pongah dan tak pernah sadar… Bahwa kekerasan, apapun bentuknya, tak akan pernah bisa menjawab masalah. Bahwa deretan mesiu dan senjata yang mereka punya tak akan cukup membutakan mata hati…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *