lebaran di kampungku

Satu sudut di barat jakarta

Subuh baru saja pergi. Tak ada keheningan. Keriuhan kecil menyelusup ke tiap rumah, terus bergerak… menuju …. jantung kampung, sebuah masjid mungil dengan segala kehangatan yang tak pernah berhenti mengalir.

Persiapan dilakukan jauh-jauh hari. Memasang atap di pelataran, agar gerimis pagi yang cantik tak membasahi jamaah, hingga menambah keindahan pembatas yang mengelilinginya. Rumah Allah yang ramah menjadi kian agung, dengan hiasan takbir dan tahmid yang terus mengalun sejak malam tadi.

Setelah melepas rindu pada-NYA dengan dua rakaat yang khusuk, dalam kerendahan hati yang sangat, wajah-wajah diliputi rona gembira memadati tanah lapang depan masjid.

Dulu selalu ada serentetan bunyi-bunyian khas. Rangkaian yang menggantung di pohon mangga, seorang laki-laki terpilih akan menyulutnya lalu berlari secepat mungkin … dan percikan api kecil akan menuai suara ribut sebagai penanda; mengundang penduduk kampung untuk segera berkumpul.

Sekarang ritual itu dihapus dalam daftar.
“Susah nemuin petasan, udah dicari sampe pasar tenabang kagak ade…, kita ikutin pemerintah aje ye, barang begituan manpaatnye dikit, ncang Tati lebaran kemaren sampe pucet dengernye,”

Tidak hanya suara menggelegar saja yang terpaksa dihapus, beberapa hidangan juga raib. Susah sekali mencari dodol, kue satu, kolang kaling aneka warna juga manisan buah pala. Untungnya tape uli dan geplak bakar masih bisa dijumpai.

Meski begitu lebaran tetap tak kehilangan makna. Di tanah lapang kemarin, para sahabat dari masa kecil berkumpul. Beberapa telah berkeluarga dan meninggalkan kampung, memadati kota-kota penyokong Jakarta dan kembali kemari pada hari raya. Yang masih tinggal, jarang sekali bersua. Ritme kota yang bergerak sangat cepat memangkas perjumpaan kami.

Lebaran tetap memancarkan pesonanya tersendiri. Ada keharuan ketika memohon maaf pada yang lebih tua. “Maafin Atta ya, sering salah,”. Ucapan maaf yang menuai bisikan doa dari orang-orang terkasih. Dengan lirih terlontar dari ketulusan hati terdalam ketika kuraih punggung tangan mereka. “Sama-sama, baik-baik ya neng, murah rejeki, tambah pinter, enteng jodoh,”

Lebaran laksana magnet, menarik tiap insan…membuatnya berada di satu tempat dalam waktu yang sama, melepaskan kerinduan, mengekalkan silaturahmi, berbagi asa, tawa dan senyum…

Untuk orang-orang bijak yang tetap menawarkan keramahan, di satu sudut di barat jakarta

One thought on “lebaran di kampungku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *