Akhirnya…

Awalnya adalah sebuah perahu kertas, yang berlayar mengikuti air mengalir, menuju samudera yang menunggu, hening…

Minggu-minggu pertama di kantor baru memaksa saya untuk sedikit bersabar. Membiasakan diri dengan kubus-kubus terbuka dan ritme yang bergerak amat cepat sempat menciptakan kelelahan yang sangat.

Hingga… berkelanalah saya. Menciptakan dunia sendiri, sejenak pergi dari riuhnya sekitar. Menemukan perahu kertas sore itu menorehkan sentuhan baru. Seperti menjumpai seorang teman yang berbisik; “Kamu tak sendiri…”

Awalnya adalah sebuah perahu kertas, yang berlayar mengikuti air mengalir, menuju samudera yang menunggu, hening…

Setelah itu, saya juga mulai melongok rumah-rumah senja yang lain. Dengan rangkaian kisah-kisah cantik, lucu, hangat atau sesuatu yang bisa membuka lebar cakrawala berpikir.

Tanpa sadar, saya mulai merasakan simpul yang menautkan kubus saya dengan mereka.

Ada saat ketika seorang teman menanti kelahiran putra pertama, saya yang terpisah ribuan kilometer ikut berharap-harap cemas. Saat sang bayi lahir, barulah perasaan itu hilang. Sekarang Mahes, begitu biasa jagoan kecil ini disapa, juga mulai menghiasi untaian kisah di rumah ayahnya.

Rumah senja lain mulai rajin saya tengok. Seorang teman yang terpisah hanya beberapa kubus menemani saya berpetualang. Dia juga yang memberi saya kekuatan penuh untuk mewujudkan negeri senja. Thank u my big bro…

Dari dunia ini saya juga tahu, di Bangkok ada sepasang suami istri dengan dunia yang penuh warna. Di Myanmar seorang ibu muda dengan putrinya, Cemara, yang cantik selalu datang dengan kisah-kisah dengan latar kebudayaan. Di New York ada seorang perempuan muda cerdas yang hadir lengkap dengan galeri foto yang memikat.

Di Pulogadung, si editor bahasa yang suka flying fox dan sinetron tiga dimensi tetap setia menawarkan kesegaran tiap kali saya datang ke rumahnya. Belakangan kami juga rajin bertelepon ria. I love u sist… Juga ada pria ramah yang rajin berkebun dan mengidam-idamkan EOS300D hadir ke pelukannya.

Rumah senja malaikat kecil yang pintar menyanyi dan bekerja di majalah remaja juga menjadi menu saya sehari-hari. Cowok kecil, funky, bekerja untuk operator seluler termuda yang menerima saya dengan ramah di lebatnya hujan sore itu juga saya dapatkan dari persentuhan saya dengan rumah senjanya.

Masih ada seseorang yang mencoba membekukan waktu dan sekarang menyepi. Hari-hari saya juga diwarnai tawa yang bersumber dari seorang pendaki gunung yang baik hati dan tidak sombong. Titian alam yang dibuatnya benar-benar mengantarkan saya ke nirwana…

Ada angsa cantik di danaunya yang sunyi, seorang perempuan dengan dongeng dan sepatu merahnya, dan pria cerdas dengan wilayah abu-abunya. Belakangan, saya juga makin tak sabar melihat kisah terbaru dari suami istri yang saat ini bermukim di Papua.

Rumah senja terbaru yang membawa keceriaan, saya dapat dari labelnya yang merujuk pada film besutan Tom Tykwer, Run Lola Run.

Deretan rumah senja diatas hanya sebagian dari rumah-rumah penuh inspirasi yang kerap saya kunjungi. Masih ada rumah senja lain yang tidak bisa terwakilkan disini.
Terimakasih telah membuat senja saya tak lagi muram…

Awalnya adalah sebuah perahu kertas, yang berlayar mengikuti air mengalir, menuju samudera yang menunggu, hening…

Dan… akhirnya disinilah saya. Menciptakan satu rumah senja sederhana. Setelah sekian lama perenungan…

One thought on “Akhirnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *