Yang Telah Pergi…

Saya tak terlalu mengenal Ridhwan. Angkatan kami terpaut jauh. Saya tengah bergelut dengan akhir perkuliahan, skripsi dan rencana sidang yang terus tertunda saat laki-laki berkulit bersih ini bergabung dalam deretan mahasiswa baru.

Screening di Kine Klub, perkumpulan film FISIP, menjadi pertemuan pertama. Sudah enggan rasanya terlibat terlalu jauh dalam organisasi kampus, tapi mantan ketua tak bisa mengelak bujuk rayu adik-adik tingkat. Jadilah saya tergopoh-gopoh meluangkan waktu untuk ritual penerimaan keluarga baru Kine.

Satu tanya jawab singkat, di tengah rimbunnya taman belakang Gedung FISIP tercinta masih terpatri jelas…

– suka nonton film –
+ iya +
– biasanya sama siapa –
+ sama Amang +
– Amang? –
+ Papa saya, dia juga yang menularkan kecintaan pada film, jadi terbalik, kaya’nya saya deh yang lebih sering nemenin dia nonton (kali ini ada sebentuk senyum di wajahnya) +

Hanya kenangan itu yang saya punya. Saya tak tahu kalau “Amang” yang sempat terucap kala itu adalah Sory Ersa Siregar, reporter senior RCTI. Dari seorang sahabat yang pernah mengangkat profil keluarga Ersa, saya akhirnya paham adanya relasi yang terjalin antara Ridhwan dengan Ersa.

Kemarin, kenangan saya tentang Ridhwan terputar kembali. Saat berita duka singgah di telinga saya, “Ersa meninggal dalam baku tembak”, lamat-lamat sosok Ridhwan, screening dan percakapan akhir Juli kembali hadir… memenuhi ruang kepala, ditengah deadline yang memburu.

Tadi malam, dengan kepala yang masih pening dan demam yang belum usai, saya memaksakan diri menyaksikan profil Almarhum Ersa di layar kaca. Tak pernah sekalipun saya berjumpa dengan pria kelahiran Brastagi 4 Desember 1951 ini. Tapi… butiran hangat jatuh satu persatu dan saya terisak pelan.

Melihat kisah hidupnya membuat saya merasa kecil, sangat kecil. Tak layak rasanya menyandang “jurnalis” di bahu. Liputan saya relatif aman. Dari hotel ke hotel, kantor ke kantor, vendor yang satu ke vendor yang lain, strategi penjualan, operator seluler, high-end, mid-end, low-end, digital life, hifi, mini DV, CDMA, camcorder, EOS300D, O2 XDA II…

Hanya pesan pendek yang saya kirim untuk Ridhwan; Turut berduka cita, semoga almarhum mendapat tempat yang baik di sisiNYA, semoga kekuatan diberikan pada keluarga. Atta-Komunikasi’97

Malam tadi saya membisikkan nama Ersa dalam Isya, juga menyelipkan satu nama lain dalam untaian doa, dia yang juga kerap bersentuhan dengan tugas jurnalistik dan resiko yang mengintai … Semoga Allah menjaga, memberinya kekuatan dan melindunginya…

lebaran di kampungku

Satu sudut di barat jakarta

Subuh baru saja pergi. Tak ada keheningan. Keriuhan kecil menyelusup ke tiap rumah, terus bergerak… menuju …. jantung kampung, sebuah masjid mungil dengan segala kehangatan yang tak pernah berhenti mengalir.

Persiapan dilakukan jauh-jauh hari. Memasang atap di pelataran, agar gerimis pagi yang cantik tak membasahi jamaah, hingga menambah keindahan pembatas yang mengelilinginya. Rumah Allah yang ramah menjadi kian agung, dengan hiasan takbir dan tahmid yang terus mengalun sejak malam tadi.

Setelah melepas rindu pada-NYA dengan dua rakaat yang khusuk, dalam kerendahan hati yang sangat, wajah-wajah diliputi rona gembira memadati tanah lapang depan masjid.

Dulu selalu ada serentetan bunyi-bunyian khas. Rangkaian yang menggantung di pohon mangga, seorang laki-laki terpilih akan menyulutnya lalu berlari secepat mungkin … dan percikan api kecil akan menuai suara ribut sebagai penanda; mengundang penduduk kampung untuk segera berkumpul.

Sekarang ritual itu dihapus dalam daftar.
“Susah nemuin petasan, udah dicari sampe pasar tenabang kagak ade…, kita ikutin pemerintah aje ye, barang begituan manpaatnye dikit, ncang Tati lebaran kemaren sampe pucet dengernye,”

Tidak hanya suara menggelegar saja yang terpaksa dihapus, beberapa hidangan juga raib. Susah sekali mencari dodol, kue satu, kolang kaling aneka warna juga manisan buah pala. Untungnya tape uli dan geplak bakar masih bisa dijumpai.

Meski begitu lebaran tetap tak kehilangan makna. Di tanah lapang kemarin, para sahabat dari masa kecil berkumpul. Beberapa telah berkeluarga dan meninggalkan kampung, memadati kota-kota penyokong Jakarta dan kembali kemari pada hari raya. Yang masih tinggal, jarang sekali bersua. Ritme kota yang bergerak sangat cepat memangkas perjumpaan kami.

Lebaran tetap memancarkan pesonanya tersendiri. Ada keharuan ketika memohon maaf pada yang lebih tua. “Maafin Atta ya, sering salah,”. Ucapan maaf yang menuai bisikan doa dari orang-orang terkasih. Dengan lirih terlontar dari ketulusan hati terdalam ketika kuraih punggung tangan mereka. “Sama-sama, baik-baik ya neng, murah rejeki, tambah pinter, enteng jodoh,”

Lebaran laksana magnet, menarik tiap insan…membuatnya berada di satu tempat dalam waktu yang sama, melepaskan kerinduan, mengekalkan silaturahmi, berbagi asa, tawa dan senyum…

Untuk orang-orang bijak yang tetap menawarkan keramahan, di satu sudut di barat jakarta

menyongsong idul fitri

the time has come for us
to wipe out all the bad
things for one chance
to live
happily ever after…

– dikutip dari The Pakubuwono Residence-

hari kemenangan perlahan menghampiri, menjenguk setiap insan dengan ramah, mengetuk pintu hati terdalam untuk kembali merenung dan mengikhlaskan khilaf yang tertoreh…
semoga kita bersua dengan nuansa kasih nan suci.

mohon maaf atas segala kesalahan. sampai bertemu lagi setelah hari raya…

salam hangat
atta

Pantun Deadline

aduh .. badan saya rasanya rontok
gara-gara pekerjaan segepok
ini redaktur terus menyodok
semua harus selesai besok

mata saya berkunang-kunang
buat tulisan berpanjang-panjang
mulai pagi hingga petang
kenapa libur tak kunjung datang

ide-ide lari menjauh
satu tulisan terasa lama
ayo atta jangan mengeluh
selesai deadline makan bersama…

menjelang lebaran dua edisi digarap sekaligus. rampung yang satu, yang lain menyusul….

Santa Cruz, Timor Leste

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara….(SGA)

Santa Cruz, 12 November dua belas tahun lalu.

Di sebuah pemakaman, ribuan anak muda memenuhi ruas jalan. Tak lama berselang, rentetan tembakan terdengar. Menyalak dengan garang. Ratusan orang bersimbah darah, tertelungkup, tak berdaya, menemui maut tanpa sempat melakukan perlawanan. Kalaupun sempat, apa yang bisa mereka perbuat. Desingan mesiu jauh lebih kuat ketimbang mereka yang bertangan kosong…

Keesokan harinya, orang-orang yang dijemput tanpa pernah kembali terus bertambah jumlahnya.

Kecelakaan biasa. Begitu pemerintah menamainya. Dan pengawasan ekstra ketat diambil sebagai langkah untuk membungkam banyak mulut. Rakyat tak perlu tahu…

Ribuan kilometer dari Santa Cruz, seorang redaktur di satu majalah merasa tak cukup dengan hanya berdiam diri dan memalingkan nurani. Berani bertatapan langsung dengan penguasa kala itu, ia bersama dengan dua sejawatnya, menurunkan tulisan pandangan mata tentang apa yang terjadi pada selasa kelabu.

Tulisan yang akhirnya berujung pada pencopotan ketiganya dari rumah berita yang mereka kelola. Pencopotan yang tak lantas membungkam suara hati…

Lima tahun berlalu. Dengan anggun, ia sebarkan kabar duka melalui caranya sendiri. Bertajuk “Jazz, Parfum dan Insiden”, buku ini menjadi pernikahan antara fiksi dengan unsur realitas. Santa Cruz kemudian hadir menyeruak dan menyelusup kembali dalam ingatan.

Santa Cruz hanya bagian kecil dari sejarah kelam negeri kita tercinta. Negeri yang tak pernah belajar dari masa lalu. Negeri yang pongah dan tak pernah sadar… Bahwa kekerasan, apapun bentuknya, tak akan pernah bisa menjawab masalah. Bahwa deretan mesiu dan senjata yang mereka punya tak akan cukup membutakan mata hati…