Thursday, 17 July 2008
Saya banyak menyimpan pertanyaan tentang kehidupan setelah mati.
Apa yang akan dikerjakan manusia saat hidupnya berakhir? Apakah di sana nanti ada musik? Bagaimana cara orang-orang menghabiskan hari? Bermain pingpong, membaca komik di perpustakaan -kalimat ini menelurkan pertanyaan, apakah di sana ada komik dan perpustakaan-. Apa hujan kecil-kecil sore hari, satu hal yang saya sukai di dunia ini, juga tetap akan turun, di sana?
Meski tak mendapatkan jawaban yang pasti, seorang teman menceritakan gambaran tentang ujung hidup yang nyaris disongsongnya beberapa tahun lalu.
Ia, perempuan, selepas jam-jam penuh peluh melahirkan putra pertamanya, tak sadarkan diri.
Jangan bayangkan ujung hidup seperti sesuatu yang menyakitkan, katanya, saat saya menemuinya di rumah sakit. Kondisinya sudah stabil saat ia membagi pengalamannya:
“Rasanya seperti berada di sebuah padang rumput yang luas. Langit begitu dekat. Hanya ada hijau dari warna rumput dan biru langit dan putih dari gaun yang kukenakan. Aku duduk di kursi di tengah padang rumput itu sambil menimang bayiku. Tak ada pohon besar tapi teduh sekali waktu itu,” ucapnya.
Suasana tenang yang tiba-tiba terhenti. Berganti dengan suara yang dikenalnya, suara suami dan keluarga. Orang-orang terdekat yang dicintainya.
“Dan di sinilah aku, masih meneruskan hidup,” tersenyum ia.
Seorang perawat di rumah sakit tempatnya bersalin melakukan kesalahan prosedur. Akibatnya ia mencecap pengalaman, atau perjalanan, menuju ujung hidup.
Tak ada gugatan hukum yang dilayangkan. Ia dan suami bersepakat untuk menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan. Putra pertamanya kini kian besar. Teman saya tetap sehat. Begitu pula suaminya. Keluarga kecil yang bahagia.
Apa yang diceritakan teman saya itu memberikan saya satu gambaran. Meski tetap saja tidak menjawab beragam pertanyaan yang saya miliki.
Apakah di sana ada bunyi-bunyian, musik? Suara angin ada, jawabnya, tapi pelan sekali.
Lalu apa saja yang dikerjakan orang-orang untuk menghabiskan hari? Bermain pingpong, membaca komik di perpustakaan. Apa hujan kecil-kecil sore hari, satu hal yang saya sukai di dunia ini, juga tetap akan turun, di sana?
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tapi yang pasti gambaran yang disodorkan teman saya, perempuan baik hati dengan suara yang lembut, membantu saya untuk mempercayai bahwa ujung hidup bisa jadi adalah perjalanan menyongsong tempat tetirah yang tenang, keteduhan, kebahagiaan yang kekal. Kesejatian.
(Tulisan ini untuk Tiur Santi Oktavia. Perempuan pejuang yang awal pekan ini berpulang. Saya tak sepakat dengan pilihan kalimat: “menyerah” pada penyakit yang kamu derita. Buat saya kamu tak pernah kalah. Bahagia di sana ya, di kehidupan tanpa tenggat)
Thursday, 10 July 2008
Perempuan itu, pada sore yang tenang, menemui penjaga kenangan.
“Tolong keluarkan potongan kenangan yang itu,” ujar perempuan, menunjuk kepada potongan di dalam kotak berwarna coklat teduh.
Penjaga kenangan dengan sigap mengambilnya, kemudian menyerahkannya pada perempuan.
Kotak belum dibuka, tapi perempuan itu telah tersenyum. Senyum yang bersumber dari kotak yang kini dipegangnya.
Perempuan menyentuh bagian atas tutup kotak berwarna coklat teduh perlahan-lahan. Meraba potongan kenangan.Dan membuka kotak dengan tetap tersenyum.
Penjaga kenangan telah menjaga potongan kenangan dengan baik, sangat baik.
Dan perempuan itu, pada sore yang tenang, merasakan dirinya menyatu dalam potongan kenangan yang semula tersimpan rapi di kotak.
Ia, berjalan di pinggir aspal, sesekali melihat langit, menuju jalan yang lebih besar, menemui lampu merah, perempatan yang sibuk, menyebrangi jalan, terus berjalan, melewati rumah duka, berhenti di sebuah warung, menu-menu ditulis berurutan di spanduk kuning yang kian kusam.
Perempuan itu duduk, tersenyum pada laki-laki (yang sore itu sepertinya tetap tidak bertambah tua), memesan cap cay tanpa nasi dengan jeruk panas, menikmati cara laki-laki itu mengolah sayuran segar, menyenangi suara bising dari kompor gas dan lalu lalang kendaraan.
Ia menikmatinya, begitu menikmati potongan kenangan itu dan tidak membaginya dengan siapapun. Ia menikmatinya sendiri. (Ia bahkan tidak mengirimkan pesan pendek pada siapapaun)
Tak semua persis sama memang. Dulu, perempuan itu jauh lebih muda. Selepas maghrib, ia kerap menuju tempat yang sama bersama beberapa karib. Perburuan makan malam yang umumnya berakhir di warung tempat di mana menu-menu tersaji di spanduk kuning kusam. Dulu juga ada tawa yang riuh.
Tak semua persis sama memang. Tapi tak mengapa. Perempuan itu tetap bahagia. Menghabiskan cap cay, meneguk jeruk panas, mencecap kembali sepotong kenangan.
-solo. Di sela-sela cuti yang panjang. oh senangnya :)-
Friday, 25 April 2008
Sejak pertama kali Ma’e, ibu saya, tahu saya akan hidup jauh darinya, di lain kota, sembilan tahun lalu, saya mencoba mencari kecemasan di wajahnya. Kata orang-orang, seorang ibu kerap kali cemas begitu akan melepas putrinya. Tapi saya gagal. Saya tak menemukan rasa cemas. Tidak sedikitpun. Hingga saya lulus kuliah dan kembali lagi hidup seatap dengannya, tidak sekalipun ibu saya cemas akan keselamatan saya. Ia selalu tenang.
Pun ketika saya bepergian, sesuatu yang dulu sering saya lakukan karena pekerjaan atau kesenangan. Ma’e akan melepas saya di hari keberangkatan dengan wajah yang tenang, bukan cemas.
Satu kali, saya pernah menanyakan hal ini padanya. Kalau kecemasan selalu berdiam di hati orang tua yang begitu mencintai buah hatinya, mengapa cemas itu tak kunjung muncul dari ibu saya?
Ia menjawab: “Itu karena Ma’e percaya kebaikan selalu berbuah dengan kebaikan. Kalau kita menjaga sikap dan berusaha untuk berbuat baik, kebaikan mungkin akan kembali ke Ma’e atau ke Atta, atau ke Mas Andi, atau ke orang yang lain. Jadi di manapun, saat Atta jauh dari rumah, Ma’e yakin akan ada orang baik yang membantu Atta.”
Tak butuh waktu lama untuk meyakini apa yang Ma’e katakan itu benar adanya.
Saya, berbeda 180 derajat dengan Ma’e yang tabah dan tenang, cenderung mudah panik dan khawatir akan sesuatu yang belum jelas gambarannya. Pindah desk misalnya. Redaktur yang membawahi desk saya sampai perlu menenangkan saya karena saat itu, saat saya membaca surat penugasan, wajah saya terlihat sangat gugup. Beragam pertanyaan yang diawali dengan kata bagaimana memenuhi kepala saya. Bagaimana kalau begini, begitu.
Dan benar saja. Hari pertama penugasan, saya sudah disambut dengan kematian tokoh besar. Alih-alih menyenangkan, liputan pertama justru menegangkan. Nomor kantor menghubungi saya terus menerus. Saya juga harus melaporkan informasi terkini untuk program berita di radio, yang masih tergabung dalam satu grup dengan media tempat saya bekerja sekarang, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.
Apesnya, saya tak membawa charger ponsel. Padahal pada saat-saat seperti itu, ponsel -bukan ponsel dengan baterai yang sekarat tentunya- adalah satu hal wajib yang harus ada. Ide saya semula adalah kantor mengutus seseorang ke tempat kejadian dan membawa charger atau ponsel dengan baterai penuh. Tapi ide tersebut akhirnya batal. Saya sendiri loh yang membatalkannya
Iya, karena setelah saya berpikir dengan tenang, saya ingat, seseorang yang saya kenal -mmm … tidak terlalu baik, bukan teman sepermainan, hanya kenal sebatas kenal- yang tinggal di dekat situ. Hebatnya lagi, rumahnya -rumah mertua kenalan saya itu tepatnya- hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah mendiang. Begitu saya coba kontak, dia ternyata memang tengah berada di rumah itu.
Bahagia rasanya saat dewi penolong itu membukakan pintu pagar rumahnya, mempersilahkan saya masuk, meminjamkan charger ponsel yang mereknya sama dengan ponsel yang saya punya, dan memberikan saya segelas air putih dingin.
Kenalan saya itu sangat hangat. Suaminya juga. Saya meninggalkan ponsel saya di sana dan kembali lagi berjibaku di ruas jalan depan rumah tokoh yang telah berpulang itu. Saya kembali lagi ke rumah itu untuk mengambil baterai ponsel yang kembali terisi.
Dia … ya, kenalan saya itu, orang baik pertama yang saya temui di desk saya yang baru.
Dia seperti orang terdepan di sebuah rangkaian orang baik-orang baik yang akan saya temui di hari-hari selanjutnya, di penugasan saya yang baru.
Teman-teman liputan saya yang sekarang menjadi orang baik kedua, orang baik ketiga, orang baik keempat, dan seterusnya, dan seterusnya. Siapa menyangka liputan di tempat dengan serangkaian aturan formal yang harus dipatuhi ternyata bisa berubah menjadi liputan yang menyenangkan.
Teman-teman baru saya begitu baik. Padahal satu, dua orang di antara mereka adalah orang-orang yang telah lama menekuni profesi sebagai jurnalis. Pengetahuan mereka terhadap beragam masalah jauh lebih dalam dibandingkan apa yang saya tahu. Jejaring mereka juga sangat luas. Tapi lihat, di sini tak ada orang pongah. Mereka riang. Ramai. Ramah. Lucu. Tak pelit isu. Saling membantu Dan rajin bekerja. Saya sangat bersyukur atas ini.
Saya percaya apa yang Ma’e katakan benar. Jadi jangan berhenti menabur kebaikan ya, sebab percayalah, dengan cara yang tidak terduga, pertolongan akan datang dari beragam cara, beragam pintu, dari orang baik-orang baik 
Wednesday, 19 March 2008
Beberapa hari lalu
teman: kok nyantai?
saya: iya dong. liputannya kan lagi nggak berat. la wong dia-nya juga ke luar negeri
teman: enggak ikut?
saya: ada orang kantor yang ditugaskan berangkat bersamanya
teman: jadi tugas sehari-hari elo emang cuma dikhususkan buat ngeliput dia?
saya: iya 
teman: ya ampun, gue pikir yang begitu itu cuma Rita Skeeter, ngintilin ke mana Harry Potter pergi
saya: ha-ha-ha. iya ih. bener banget.
Dan beginilah, dalam beberapa hari ini, sejak awal pekan lalu, ritme saya mengalami perlambatan, tak sekencang biasanya. Bisa bangun tidur lebih siang, pergi cari DVD, makan pizza bareng pacar , chatting chatting dan chatting lagi, dan bisa … mengisi blog
O ya, yang ingin tahu Rita Skeeter lebih dekat, dapat menjumpai sosoknya di sini
untuk rita skeeter-rita skeeter yang lain: sampai berjumpa minggu depan yah, tetap semangat
Tuesday, 12 February 2008
Dulu, saya sering kali disodori pertanyaan semacam ini?
Oh, wartawan? Kok nggak ke RSPP (Rumah Sakit Pertamina Pusat)? -ini sewaktu berita seputar mantan Presiden almarhum Soeharto tengah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut-
Atau ini
Wah, sering ketemu artis dong? -hihihihi, mereka pikir saya bagian dari pekerja jurnalisme infotainment-
Atau ini?
Sering wawancara koruptor, pencuri, kayak di televisi itu?
Wartawan, dalam gambaran sebagian orang, adalah pekerja media yang beredar di segala tempat, di banyak bidang. Tak salah memang. Beberapa media, seperti televisi, situs berita, dan media cetak, menempatkan wartawannya di beragam bidang, pada saat yang bersamaan. Ya, beredar. Sangat beredar. Wartawan tadi bisa memulai hari dengan liputan kebakaran di utara Jakarta, lalu bergeser meliput diskusi politik seputar penyelesaian kasus yang tengah panas, dan mengakhiri liputan hari itu dengan menghadiri peluncuran produk ponsel terbaru.
Saya selalu salut dengan wartawan jenis ini. Perlu kemampuan tinggi untuk berpindah angle berita dengan cepat dan tidak dibuat bingung karenanya.
Tidak semua wartawan masuk ke dalam barisan ini. Dulu saya setia pada desk teknologi. Liputan saya sehari-hari hanya berkisar di seputar teknologi. Lain tidak. Dengan begitu saya bisa fokus. Tentu saya tidak perlu ke RSPP, atau mewawancarai koruptor hingga pelaku kejahatan dan menunggu berjam-jam di depan rumah artis yang kabarnya akan segera bercerai, tapi tak kunjung mengajukan gugatan. Saya hanya beredar di lingkungan yang berkaitan dengan teknologi.
Menyenangkan? Pasti. Saya punya banyak waktu untuk memotret, pergi ke sana dan ke situ, melakukan ini dan itu.
Tapi itu dulu …
Sudah hampir sebulan ini saya meninggalkan desk, tempat yang saya geluti dari awal saya masuk ke dunia jurnalisme. Sekarang saya tak ubahnya wartawan yang harus beredar dari satu isu ke isu lain. Meski kadang tak harus berpindah tempat dan tetap di lokasi yang sama. Semua harus dikerjakan dengan cepat. Orang yang saya temui tiap hari berganti-ganti.
Di teknologi dulu saya nyaris tak pernah menemui liputan pada malam hari. Tapi sekarang?
Kemarin, misalnya, saya mesti menunggu sebuah pertemuan yang belum juga usai hingga malam hari. Oh ya, belum lagi jika lokasi liputan harus bergeser ke timur Jakarta, sebuah tempat yang kerap disebut-sebut dalam pemberitaan.
Selain mengubah ritme kerja, saya juga dipaksa untuk merombak penampilan. Ha-ha-ha. Lupakan celana denim (saya juga jarang menggunakan celana denim saat liputan di teknologi, tapi jangan coba-coba menggunakannya di liputan yang sekarang).
Perlu waktu untuk mensyukuri desk baru ini. Sampai sekarang saya masih tergopoh-gopoh. Tapi untungnya saya tak sendiri. Sekumpulan teman baru yang juga meliput di desk ini benar-benar menyenangkan. Hari-hari saya tak lagi seburam seperti saat pertama kali saya dipindahkan.
Seru. Sekarang kata ini yang menempel di pikiran saya.
Tahun ini bisa jadi tak banyak tempat yang akan saya kunjungi. Tak banyak perjalanan dan hari libur. Tapi insya Allah itu sepadan dengan pengalaman yang akan saya temui di tempat baru ini
Saya akan terus berusaha dengan baik. Hidup saya tak akan berakhir di sini. Saya tahu itu. Dan bukankah sesuatu yang tidak dapat membunuhmu akan membuatmu jauh lebih kuat? Saya akan bertahan dan tetap bersemangat. Pasti 