Saturday, 3 January 2009

Puisi

“Terima membuat puisi. Hubungi penyair-pembuat-puisi di alamat ini: Jalan Cempaka 2 A”.

Perempuan mengamati iklan kecil di harian pagi. Saat ia menghabiskan sarapan. Akan kusambangi penyair-pembuat-puisi itu dan memesan satu puisi untuk kekasih hati, begitu ujarnya.

Begitu sampai di alamat penyair-pembuat-puisi, perempuan mengutarakan maksudnya.

penyair-pembuat-puisi menyambutnya dengan ramah. Ia berkata pada perempuan;ceritakan padaku tentang kisah kalian, bagaimana kalian bertemu, mengapa kau jatuh hati padanya, ceritakan, karena itu bahan mentah yang penting dan menjadi modalku untuk bekerja membuat puisi pesananmu,

Dan perempuan kemudian memulai kisahnya. Tentang pertemuan yang terjadi ketika senja turun dan hujan baru saja usai. Tentang kecintaannya pada harum tubuh yang meruap dari lelaki yang kemudian menjadi kekasihnya. Tentang kesenangannya menghabiskan hari bersama, berdua. Tentang kebahagiaan yang menetap. Tentang tawa, tangis, pemahaman, berbagi, memupuk rasa percaya. Tentang kasih. Tentang beragam hal.

penyair-pembuat-puisi menyimak dengan baik. Mencatat ini dan itu.

Tampaknya aku sudah mendapatkan bahan-bahan yang kubutuhkan, katanya kemudian.

Tapi aku perlu bertemu dengan kekasihmu, ujar penyair-pembuat-puisi, untuk mengetahui bentuk puisi seperti apa yang diinginkannya. Agar puisi pesananmu, yang aku buat nanti, benar-benar memenuhi seleranya. Sepekan setelah itu kau dapat mengambil puisimu di sini.

Baiklah, jawab perempuan, akan kuatur pertemuan kalian.

Tujuh hari berselang. Perempuan kembali mendatangi penyair-pembuat-puisi. Ia membayangkan rupa dari puisi pesanannya untuk kekasih hati.

Ini, ujar penyair-pembuat-puisi pada perempuan, seraya menyodorkan kertas putih.

Tak ada puisi? perempuan bertanya bercampur heran

Ya, tak ada puisi pesanan, jawab penyair-pembuat-puisi. Aku menyambangi kekasih hatimu dan berharap menemukan gambaran mengenai bentuk puisi yang ia sukai, yang sesuai dengan selera. Tapi bukan itu yang kudapatkan, sebab kekasih hatimu berkata: untuknya kau adalah deretan kalimat yang menenangkan dan menentramkan, paragraf yang membawa kebahagiaan jiwa. Melengkapi. Mana mungkin aku membuat pesanan puisi untuk kekasihmu, seperti yang kau minta pekan lalu, sebab baginya kau adalah puisi…

6 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 1:26.

kembali ke atas

Sunday, 28 December 2008

Songsong 2009

Saya bukan tergolong ke dalam kelompok orang yang mempersiapkan pergantian tahun dari jauh -jauh hari. Jelang akhir tahun nanti, saya, seperti biasanya, tak memiliki rencana khusus.

Bre Redana menulis kolom apik mengenai pergantian tahun berjudul “KD” pada Kompas hari ini.

Saya tertarik pada bagian ini: menurut palaeontolog Stephen Jay Gould, dimensi pergantian waktu menjadi berarti karena orang memberikan signifikansi psikologis padanya. Tanpa diberi signifikansi psikologis, suatu angka dalam kategorisasi waktu tak ada apa-apanya.

Saya menyengajakan diri memberikan signifikansi psikologis pada tiap-tiap pergantian tahun.

Ujung tahun biasanya menjadi satu titik yang dengan mudahnya menarik saya untuk mengingat kembali apa yang telah saya jalani.

Menengok kembali perjalanan yang telah lewat membuat saya mensyukuri banyak hal. Meski sejujurnya tak ada yang bisa dikatakan luar biasa :)

Tahun ini saya akhirnya bisa melihat Negeri Paman Sam pada November lalu. Sebuah kunjungan yang sangat sangat singkat tapi menjadi hari terbaik dalam hidup saya. Di sana saya juga sempat bertemu Tomi, teman baik yang tak pernah kehabisan energi positif, jurnalis cerdas yang tengah bermukim di Washington DC.

Saya juga tak terlalu banyak berhubungan dengan rumah sakit. Bandingkan dengan tahun lalu saat saya harus menjalani dua kali rawat inap pascaoperasi plus satu kali operasi gigi. Saya bersyukur sekali atas nikmat sehat ini pada 2008 :)

Suasana liputan juga tetap menyenangkan. Insiden kecil sempat terjadi dan membuat saya kalut. Untunglah semua berakhir dengan baik. Saya kian mencintai teman-teman liputan. Bersama mereka kerja meliput di tengah turbulensi akibat krisis keuangan global menjadi jauh lebih ringan.

Ada banyak yang tidak berjalan sesuai rencana di tahun ini. Saya terlampau malas untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris (satu yang sangat saya sesali saat ini). Saya, lagi-lagi, tak memanfaatkan waktu dengan baik. Sejumlah rencana lain juga tidak terwujud.

Tahun ini juga diwarnai dengan kelahiran. Kabar membahagiakan. Sahabat saya belum lama ini melahirkan putri kedua. Sahabat saya yang lain juga. Selain kedatangan, tahun ini sejumlah orang yang saya kenal pergi menghadap-NYA.

Malam ini saya tak lagi menaruh resolusi dengan daftar yang panjang untuk 2009. Saya hanya ingin 2009 berjalan dengan baik.

Semoga Tuhan tetap memberikan saya dan keluarga kesehatan. Semoga saya bisa lebih bersabar menghadapi banyak hal. Semoga saya tetap mensyukuri apa-apa yang ada pada saya, memiliki lebih banyak waktu luang untuk keluarga, teman, dan kekasih, membaca lebih banyak buku, tetap melakukan perjalanan, serta menjalani beragam hal-hal kecil nan sederhana yang menyenangkan. Semoga 2009 membawa banyak kebahagiaan untuk semua :)

15 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 22:08.

kembali ke atas

Friday, 24 October 2008

Selamat Jalan Ruri

Kabarnya baru sampai ke saya kemarin, hampir tengah malam. Dan saya terkejut, sangat.
Tuhan memiliki skenario-Nya tersendiri. Yang pasti saya menyesal tak menyempatkan diri menyambanginya setelah ia menjalani perawatan di rumah sakit.

Selamat jalan Ruri. Pasti tempat yang lapang dan tenang, lengkap dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, yang Ruri diami saat ini.

Untuk Fanny dan keluarga, semoga diberi kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan

17 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 20:41.

kembali ke atas

Sunday, 14 September 2008

Saat banjir datang

Banjir menggenangi rumah saya. Pada Minggu malam lalu. Pintu air, yang dibangun tak jauh dari rumah, kini mulai membuat ulah. Sebelumnya tak pernah ada air sederas malam itu masuk ke rumah, lewat sela-sela pintu depan, dan terus menggenangi seluruh ruangan. Datang selepas tengah malam. Air baru surut selepas subuh. Hanya kakak saya yang melihat air pergi karena hanya ia seorang diri di rumah. Saya dan Ma’e sudah mengungsi saat melihat ketinggian air terus bertambah.

Dan cerita sesudahnya berujung pada kelelahan. Sampai saat ini rumah masih belum kembali rapi. Buku-buku saya turut menjadi korban. Beragam CD musik juga. Kaset peninggalan masa silam juga. Aneka kepingan DVD juga. Hard disk eksternal juga. CPU juga. Hahaha. Daftarnya bisa lebih panjang lagi jika hendak dirunut.

Kami memang tak sempat membereskan barang-barang karena air datang teramat cepat.

Awalnya saya kesal sekali. Saya membereskan rumah sebelum liputan. Libur di hari Rabu juga saya gunakan untuk membersihkan beragam barang yang kotor karena terendam air banjir.

Kekasih hati, iya, si harum hutan yang baik hati dan rupawan itu ;), datang untuk menenangkan. Mengambil peran dengan membantu mengeluarkan air dari ruang tengah dan ruang depan.

Untung bukan kebakaran ya, ujarnya, saat kami berdua duduk melepas lelah setelah berhasil membersihkan lumpur. Dahinya dipenuhi bulir-bulir keringat.

Kalau kebakaran, barang-barang habis, sedih, tuturnya lagi.

Dan saya lupa. Musibah sekecil ini sudah membuat saya lalai melihat nikmat lain yang jauh lebih besar. Ramadhan memang selalu punya cara untuk memberikan hikmah.

Kemarin ia datang lagi. Bukan untuk mengepel lantai rumah tapi untuk mengajak saya memutari kota. Ia, yang tiba setelah saat berbuka puasa, membawa dua kuntum lili putih dan dua kue enakenakenak dari pabrik keju dan kue di bilangan Tebet. Tanggal 13 memang layak untuk dirayakan. Bukan begitu beib? :)

Kekasih saya adalah jeda terbaik dari rentetan aktivitas membersihkan rumah hampir sepekan ini.

Mudah-mudahan pekan depan rumah sudah kembali seperti sedia kala. Seperti sebelum air datang lewat tengah malam pada Minggu pekan lalu.

Mmm, rasanya setelah ini saya harus meluangkan waktu untuk menulis dengan rutin. Bukan begitu? :)

26 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 15:06.

kembali ke atas

Thursday, 17 July 2008

Berpulang

Saya banyak menyimpan pertanyaan tentang kehidupan setelah mati.

Apa yang akan dikerjakan manusia saat hidupnya berakhir? Apakah di sana nanti ada musik? Bagaimana cara orang-orang menghabiskan hari? Bermain pingpong, membaca komik di perpustakaan -kalimat ini menelurkan pertanyaan, apakah di sana ada komik dan perpustakaan-. Apa hujan kecil-kecil sore hari, satu hal yang saya sukai di dunia ini, juga tetap akan turun, di sana?

Meski tak mendapatkan jawaban yang pasti, seorang teman menceritakan gambaran tentang ujung hidup yang nyaris disongsongnya beberapa tahun lalu.

Ia, perempuan, selepas jam-jam penuh peluh melahirkan putra pertamanya, tak sadarkan diri.

Jangan bayangkan ujung hidup seperti sesuatu yang menyakitkan, katanya, saat saya menemuinya di rumah sakit. Kondisinya sudah stabil saat ia membagi pengalamannya:

“Rasanya seperti berada di sebuah padang rumput yang luas. Langit begitu dekat. Hanya ada hijau dari warna rumput dan biru langit dan putih dari gaun yang kukenakan. Aku duduk di kursi di tengah padang rumput itu sambil menimang bayiku. Tak ada pohon besar tapi teduh sekali waktu itu,” ucapnya.

Suasana tenang yang tiba-tiba terhenti. Berganti dengan suara yang dikenalnya, suara suami dan keluarga. Orang-orang terdekat yang dicintainya.

“Dan di sinilah aku, masih meneruskan hidup,” tersenyum ia.

Seorang perawat di rumah sakit tempatnya bersalin melakukan kesalahan prosedur. Akibatnya ia mencecap pengalaman, atau perjalanan, menuju ujung hidup.

Tak ada gugatan hukum yang dilayangkan. Ia dan suami bersepakat untuk menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan. Putra pertamanya kini kian besar. Teman saya tetap sehat. Begitu pula suaminya. Keluarga kecil yang bahagia.

Apa yang diceritakan teman saya itu memberikan saya satu gambaran. Meski tetap saja tidak menjawab beragam pertanyaan yang saya miliki.

Apakah di sana ada bunyi-bunyian, musik? Suara angin ada, jawabnya, tapi pelan sekali.

Lalu apa saja yang dikerjakan orang-orang untuk menghabiskan hari? Bermain pingpong, membaca komik di perpustakaan. Apa hujan kecil-kecil sore hari, satu hal yang saya sukai di dunia ini, juga tetap akan turun, di sana?

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tapi yang pasti gambaran yang disodorkan teman saya, perempuan baik hati dengan suara yang lembut, membantu saya untuk mempercayai bahwa ujung hidup bisa jadi adalah perjalanan menyongsong tempat tetirah yang tenang, keteduhan, kebahagiaan yang kekal. Kesejatian.

(Tulisan ini untuk Tiur Santi Oktavia. Perempuan pejuang yang awal pekan ini berpulang. Saya tak sepakat dengan pilihan kalimat: “menyerah” pada penyakit yang kamu derita. Buat saya kamu tak pernah kalah. Bahagia di sana ya, di kehidupan tanpa tenggat)

29 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 22:41.

kembali ke atas


Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.6.3. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas